Thursday, January 30, 2014

Don't (Ever) Judge a Book by Its Cover - Part 2


Buat yang pernah baca note saya yang berjudul Don't (Ever) Judge a Book by Its Cover(lihat link ini: https://www.facebook.com/notes/mira-marissa-syam/dont-ever-judge-a-book-by-its-cover/736197026394219) pasti tahu cerita tentang Si Bapak berpenampilan ala petugas security yang ternyata pandai merias wajah.

Nah, hari ini, di acara pernikahan adik laki-laki saya, Si Bapak kembali beraksi. Jari-jari tangannya yang gempal dengan lincah memainkan alat-alat make up untuk memoles wajah kami. Kali ini bukan cuma saya yang dibuat (semakin) cantik olehnya, tapi juga adik perempuan saya. 

"Kok yang ngedandanin bapak-bapak, kan biasanya ibu-ibu...." 

Begitu celoteh salah seorang keponakan kecil dengan polosnya saat Si Bapak tengah merias saya, yang spontan disambut tawa oleh yang mendengarnya. Tapi Si Bapak seakan tak peduli jadi bahan olokan. Ia tetap serius mendadani wajah saya.

Kelihaian Si Bapak berpenampilan gahar ini dalam urusan rias merias wajah, ternyata masih terbukti. Nih hasilnya. Cantik kaaann.


Satu penyesalan saya, lagi-lagi saya luput mengabadikan penampakan Si Bapak. Entah kenapa. Padahal tadi saya banyak waktu untuk memotretnya. Saya yakin pasti note ini lebih sempurna kalau ada foto Si Bapak, supaya kalian dapat gambaran seperti apa wujud Si Bapak yang hits to the max ini. 

Hhhmm, atau mungkin saya belum diberi kesempatan memasang foto Si Bapak di notesekuel kedua ini, supaya nanti ada Don't (Ever) Judge a Book by Its Cover - Part 3. 

Sehingga saya senantiasa selalu diingatkan, untuk tidak menilai apa pun hanya dari kulitnya saja!

***
Jakarta, 4 Januari 2014
11.00 PM

Tahun Baru dan Kamu!


Berkat seorang sahabat, tahun baru 2014 kali ini, saya tak perlu repot-repot berkontemplasi membuat resolusi. 

"Pengen tahu, dapet yang bener..."
(baca: 'pengen lho')

Begitu kata sahabat saya, dua hari menjelang akhir tahun 2013, saat kami sedang berkendara bersama. Sontak saya menyahut sambil tertawa riuh, "Wuaaah, elo sampe ngomong begitu? 'Soundbite of the Day' ini, musti direkam! Bisa jadi paket satu setengah menit kayaknya nih. Gw akan buka dengan soundbite elo, baru beritanya.Pasti ratingnya tinggi." 

Buat yang masih asing dengan istilah-istilah dalam ucapan saya, biar saya jelaskan dulu.Soundbite artinya cuplikan wawancara, yang sering kita lihat saat menonton tayangan berita di televisi. 'Quote of the Day', kira-kira itu istilah lainnya 'Soundbite of the Day'. Sementara paket satu setengah menit maksudnya liputan berita berdurasi satu setengah menit. Lalu rating yang tinggi berarti banyak orang yang nonton tayangan itu.

Kenapa saya menganggap ucapan sang sahabat tergolong langka? Karena sahabat yang seusia saya itu adalah tipe perempuan independen yang jarang mengungkapkan keinginannya untuk serius berkomitmen dengan lawan jenis (baca:menikah). Pacaran dan jatuh cinta sih dia pasti pernah (dan sering), tapi untuk sampai ke tahap yang lebih lanjut ia sangat pilih-pilih dan hati-hati. Makanya ketika sahabat saya melontarkan kalimat tersebut, sambil duduk terhenyak di jok mobil dengan mata menerawang, spontan saya langsung menyambut dengan antusias, karena menganggap hal itu termasuk moment bersejarah.

Pembicaraan kami di sisa perjalanan itu berlanjut ke soal resolusi tahun baru. Dan kami sama-sama berkesimpulan punya resolusi yang sama untuk tahun 2014 ini. Cuma satu saja. Dan akan fokus dalam berusaha mewujudkannya. 

Thanks to her, tahun ini saya jadi tidak perlu repot-repot berpikir keras merumuskan resolusi tahun baru yang tepat. Dan bila biasanya saya punya banyak resolusi yang dibuat dalam bentuk daftar priotas, tahun ini saya yakin cuma punya satu. Dan pasti. 

Mau tahu apa?

"Saya cuma mau kamu!'

Ya, kamu. Kamu (yang) (benar)!

Happy New Year.

Sekian.

***
Jakarta, 2 January 2014
1.45 AM

Si Biru Punya Cerita


Yang akrab dengan saya, pasti tak akan anggap serius bila saya berkisah tentang Si Biru yang punya cerita. Soalnya, hampir semua barang yang saya punya berwarna biru, sehingga bisa jadi mereka berpikir tidak ada cerita yang istimewa tentang Si Biru, benda apapun itu yang saya maksud.

Tapi kalau Si Biru yang satu ini, saya jamin benar-benar punya cerita. 


Si Biru di kereta dari Belanda menuju Luxembourg, 2011

Sesuai warnanya benda ini saya sebut 'Si Biru'. Ya, dia adalah MP4 player, yang saya beli dari toko Media Markt awal tahun 2010, saat kuliah di kota Den Haag. Bagi saya saat itu, kegunaan utama Si Biru bukan buat mendengarkan musik, tapi untuk merekam wawancara terkait tugas-tugas kuliah hingga thesis.  Jadi, jika di thesis saya ada lembar ucapan terima kasih, Si Biru pasti ada di urutan pertama, karena ia benar-benar berjasa membuat saya bisa memakai toga untuk kedua kalinya.

Si Biru juga pernah merekam sepenggal kisah cinta satu musim saya di tanah Eropa. Ya, merekam secara harafiah, karena di dalam si biru ada cuplikan kemesraan kami di sebuah kota kecil di Belanda. Saya juga pernah berbagi Si Biru bersama dia, di sebuah taman di kota Paris, pada suatu hari yang cerah di musim semi. "I love the way you love me... strong and wild, slow and easy..," begitu lantun Si Biru kala itu. 'Dia' yang saat ini pastilah sudah tidak penting, tapi kisahnya masih melekat jelas di ingatan. Mungkin, karena dia adalah bagian dari kisah romansa dengan setting Eropa yang anggun, tentu tidak mudah untuk dilupakan begitu saja. Atau sederhana saja, mungkin karena diantara saya dan dia, ada Si Biru yang istimewa ini.

Tiba di negeri ini, Si Biru malah bukan cuma mencatat cerita saya tapi juga banyak kisah hidup orang-orang lain, dengan berbagai profesi, beragam usia. Pasalnya, Si Biru hampir selalu saya bawa saat melakukan pre interview dengan narasumber untuk program talk show 'Satu Jam Lebih Dekat', yang bercerita tentang perjalanan hidup seorang public figure. Si Biru pun jadi paham banyak hal, bahwa menjadi sukses itu tidak instan dan butuh perjuangan keras. Tak jarang Si Biru juga menampung air mata duka, bahagia, sampai berbagai petuah bijak sarat makna. Petuah bijak yang kadang pun membuat saya, si pewawancara, tersentak dan spontan merenung sejenak di tengah-tengah wawancara. Tak lain karena, setiap orang menyimpan kisah unik dan istimewa dan selalu ada pelajaran yang bisa dipetik darinya.

Malam ini, sendirian di kamar, saya mendengarkan kembali Si Biru. Cerita demi cerita pun dilantunkannya. Ada kisah tentang saya, hampir 4 tahun yang lalu di Negeri Kincir Angin, yang sedang berjuang meraih cita dan cinta. Lalu dirangkai dengan cerita tentang orang-orang lain dengan berbagai pengalaman mereka mengecap pahit manisnya hidup. Tak salah kalau dibilang pengalaman adalah guru yang terbaik. Karena saat mendengarkan kicauan Si Biru, ada perasaan hangat yang perlahan-lahan menjalar. Perasaan hangat yang membuat saya sesaat lupa akan cuaca dingin pasca hujan di ruangan ini.

Dan, ini semua gara-gara Si Biru. Si Biru (yang) punya (banyak) cerita...

***
"My life is my message" - Mahatma Gandhi.

Bali, 27 Desember 2014
00.45 AM

Hey Geger, Put Yourself in Other's Shoes!


Siapakah Geger? 

Yang sudah cukup akrab dengan saya pasti paham siapa Geger. Tapi kalau belum tahu, biar saya perkenalkan. Geger adalah nama panggilan untuk mobil Hyundai Getz hitam yang selalu setia menemani saya mengarungi ganasnya jalanan ibukota selama hampir 10 tahun. Ya, saya memang cukup beruntung karena memiliki mobil pribadi yang mengantarkan saya beraktivitas sehari-hari. 

Saat sedang mengendarai si Geger menembus semerawutnya lalu lintas Jakarta, seringkali saya kesal pada motor-motor yang berseliweran seenaknya. Selain khawatir motor-motor itu meleceti si Geger, saya juga sebal karena gerombolan mereka kerap menghalangi Geger bergerak, apalagi saat macet. Saking kesalnya, saya sering sengaja balik menghalangi saat mereka berusaha mencari celah-celah untuk bergerak. Umpatan seperti "Ini motor sembarangan banget sih!" atau "Ini motor nyawanya banyak kali ya!" sudah biasa saya lontarkan bahkan saat hanya sendirian di dalam si Geger.

Tapi yang saya alami kemarin ceritanya agak berbeda.

Saya ada janji pukul 19.00 di daerah Jakarta Pusat, dan tidak boleh terlambat karena ini adalah urusan profesional bukan pribadi, Tapi pukul 18.00 saya dan Geger masih terjebak macet total di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Akhirnya saya ambil keputusan cepat. Saya parkir Geger di tempat yang aman dan naik ojek ke tempat tujuan.

Jaraknya masih cukup jauh dan jalan yang dilalui sama sekali belum bebas dari kepadatan. Tapi si Bapak Tukang Ojek cukup gesit namun hati-hati mengambil celah-celah untuk melaju. Tak jarang, ia menerima umpatan dari para pengemudi mobil yang tidak suka jalurnya diambil. Ada juga mobil-mobil yang sengaja menghalangi geraknya. Padahal ia cuma ingin membantu saya sampai di tujuan tepat waktu. Sama seperti harapan saya yang menumpanginya.

Di tengah-tengah perjuangan si Bapak Tukang Ojek menyelamatkan saya agar tidak terlambat itulah, saya jadi tahu apa yang dirasakan motor-motor yang sering saya maki bersama si Geger. 

Tidak, saya tetap tidak suka dengan motor-motor yang sembarangan mengambil jalur yang bisa membahayakan diri mereka dan orang lain juga, namun saya jadi paham bahwa sama seperti saya dan si Geger yang ingin beraktivitas dengan lancar, sebagian dari mereka juga punya kepentingan atau niat yang baik. Misalnya, seperti saya yang ada di boncengan si Bapak Tukang Ojek hari itu, tidak ingin terlambat karena khawatir dianggap tidak profesional, dan si Bapak Tukang Ojek pun punya niat baik, membantu saya supaya tidak terlambat. 

Di atas motor si Bapak Tukang Ojek, tiba-tiba saja saya berteriak dalam hati...

"Hey Geger, put yourself in other's shoes!"

And believe me, you'll have a whole new perspective!

***
Oh iya, berkat kelincahan si Bapak Tukang Ojek, saya sampai di tujuan 15 menit lebih awal dari waktu appointment:)

Jakarta, 14 November 2013
1.30 AM

Post Relationship Clean Up (a.k.a 'Bersih-Bersih' Setelah Putus)


Saat suatu hubungan (dalam konteks asmara: pacaran/pernikahan) berakhir, ternyata bukan serta merta selesai sampai disitu. 'Bersih-bersih' jadi fase yang, suka-tidak suka dan mau-tidak mau, harus dilewati. Saya pribadi menyebutnya dengan 'Post Relationship Clean Up'.
Yang utama, tentu saja membersihkan hati. Secara baik-baik atau tidak maupun kesepakatan bersama atau sepihak, yang namanya putus cinta pasti tidak enak. Proses selanjutnya, menata hati supaya bisa move on, begitu kata sebagian orang. Namun bagi saya ada yang lebih penting daripada cuma move on, yaitu ikhlas. Ikhlas adalah tahap yang lebih matang dari sekedar move on. Saat sudah ikhlas menerima semua yang terjadi, tak ada lagi pertanyaan, ganjalan dan perasaan dendam di hati. Yang ada justru mendoakan yang terbaik buat si mantan. Kalau sudah ikhlas, move on happens automatically.

Namanya manusia, ikhlas memang tidak gampang. Dan ternyata dalam proses menuju ke ikhlas, ada 'bersih-bersih' lain yang juga menuntut perhatian. Yaitu membersihkan kenangan-kenangan yang berwujud fisik. Misal: foto-foto, benda-benda milik atau pemberian sang mantan.

Sebagian orang spontan membuang semua kenangan yang berbentuk fisik itu. Bisa dengan cara dimusnahkan dahulu atau langsung saja dibuang ke tong sampah. Namun saya memilih mengumpulkan semua benda-benda tersebut dalam sebuah box, lalu menyimpannya di suatu tempat yang jarang tampak depan mata. Saya tidak menyingkirkan benda-benda itu bukan supaya bisa sering-sering KLBK, tapi karena saya orang yang menghargai sejarah. Apalagi bagian dari perjalanan hidup saya sendiri. Lagipula saya kok gak rela ya kalau wajah saya (= foto bersama sang mantan) masuk ke tong sampah.

Di era digital dan social media seperti sekarang, daftar Post Relationship Clean Upjadi makin bertambah.  Misalnya, foto-foto soft copy  dan  semua yang telah di-share disocial media, mulai dari foto, kata-kata mesra (sahut-sahutan di twitter atau commentfacebook/ path misalnya), tags (untuk foto, status, places check-ins, apa pun), dan sebagainya. Status hubungan seperti in a relationship, engaged atau married (kalau ditampilkan) pun perlu diperbaharui. Kalau putusnya tidak baik-baik, bahkan pertemanan disocial media juga dianggap perlu diakhiri.

Ah, tapi kan gampang aja, tinggal klik lalu delete. Eits, siapa bilang? Kelihatannya memang mudah, tapi saking banyaknya hal yang sudah kita share di social media, urusan 'bersih-bersih' yang satu ini menurut saya justru paling menyita tenaga dan waktu. 

Makanya, sejak putus dengan mantan pacar hampir 6 bulan lalu, 'bersih-bersih' yang ini belum juga saya lakukan. Pasalnya, hal ini rasanya belum jadi prioritas yang harus diutamakan, karena masih banyak urusan lain yang jauh lebih penting, misalnya pekerjaan kantor atau aktivitas bersama keluarga dan teman-teman. 

Apalagi saya merasa yang penting saya sudah mengikhlaskan semuanya. Kalau hati sudah ikhlas, urusan 'bersih-bersih' yang lain cuma sekedar tambahan belaka yang boleh dilakukan, boleh juga tidak. Bukan prioritas yang menempati urutan atas.

Sementara, di sisi sebelah sana, hanya beberapa hari setelah putus, sang mantan sudah meng-unshare dan mem-block saya dari dua akun social media yang berbeda. Beberapa waktu lalu, jumlah foto-foto saya di facebook pun berkurang. Ternyata si mantan sudah menghapus foto-foto saya yang ada di halaman facebooknya dan meng-untag foto-foto dirinya yang pernah saya tag. 

Kalau bersikap reaktif, saya pasti langsung melakukan hal yang sama dengan si mantan saat itu juga. Karena jujur saja, ada sedikit perasaan kesal saat sadar bahwa ada orang di sana yang menghapus 'jejak' hubungannya dengan saya (bisa berlaku untuk hubungan apa pun ya, gak harus pacaran, misal pertemanan). Tapi kok rasanya saya masih malas ya mengurusi printilan yang menurut saya tidak penting. Lagi-lagi, kan yang penting hati saya sudah ikhlas. Lalu otomatis saya sudah move on. Itu yang utama.

Tapi, hari ini satu persatu foto si mantan mulai saya hapus dari halaman facebook saya. Cuma yang di facebook, karena saya tak mau repot-repot 'bersih-bersih' timeline twitter dan path yang pasti akan sangat menyita waktu dan tenaga. Foto-foto soft copy si mantan di laptop juga sudah jadi satu di folder bertajuk 'Old Stuff'. Untungnya saya tidak pernah pasang status hubungan di facebook jadi gak perlu repot-repot ganti status hubungan dan bikin semua teman facebook dalam sekejab tahu perubahan dalam kehidupan pribadi saya (kan itu bukan urusan mereka).

Lho, kok saya tidak konsisten? Katanya tadi malas 'bersih-bersih' social media?

Alasannya sederhana saja. Kebetulan hari ini saya punya waktu. Saya sedang santai. Saking santainya sampai tidak tahu lagi apa yang musti dikerjakan.

Artinya? Inilah waktu yang tepat untuk mengurus remeh temeh tidak penting yang menempati urutan bagian bawah dalam hidup saya! Seperti 'bersih-bersih' social mediaurusan asmara ini....

---

*Moral story-nya, you figure it out yourself lah. Nah, kalau pesan pribadi dari saya:

Pertama, sebaiknya gak perlu lah terlalu banyak umbar-umbar kemesraan lewat social media. Sewajarnya aja. Iya kalau awet sampai nenek-kakek sehidup semati, nah kalau kandas di tengah jalan? Post Relationship Clean Up itu bikin repot dan nambah-nambah kerjaan gak penting. Saya baru aja ngalamin. No offense buat yang udah terbiasa share urusan asmara di social media ya, ini hanya menurut saya lho.

Kedua, ini pesannnya rada serius, beneran deh use your social media wisely. Selektif pilihcontent mana yang wajar dan perlu untuk di share dan mana yang gak. Kalau mau curhat, sama temen/keluarga atau sama Tuhan aja. Kalau mau iseng, di dunia nyata aja deh, biar gak kayak pengecut. Kalau mau mesra-mesraan, jalur pribadi aja sih lebih intim, lebih bebas, dunia beneran milik berdua.

*Dari saya yang sedang merasa social media bermanfaat tapi kadang suka mengganggu!*

Jakarta, 22 September 2013
11.30 PM

Don't (Ever) Judge a Book By Its Cover

'Drama' terjadi pagi tadi saat persiapan acara lamaran adik saya, make-up artist yang sengaja kita panggil ke rumah nyasar.

"Mbak, nanti saya make-up Mama, Mbak di make-up sama suami saya aja ya, biar cepet." Kata si Mbak begitu sampai di rumah saya (dia memang datang naik motor diantar sang suami).

"&$*%#" HAH? Saya pun melongo.

Bukan apa2, pasalnya penampilan sang suami lebih mirip security kompleks rumah (badan besar, berkumis) daripada juru rias. Tapi karena waktu sudah mepet, saya terpaksa merelakan wajah saya digarap oleh si Bapak dengan jari-jarinya yang gempal.

"Jangan tebal2 bedaknya Pak, yg soft aja ya." Berulang kali saya ingatkan dia karena khawatir hasilnya wajah saya kayak lenong. Apalagi saat di make-up posisi saya tidak langsung di depan cermin karena dikuasai Mama.


"Sudah Mbak, coba dicek dulu." Dag dig dug, saya menghampiri cermin.

 Voila! 


Ternyata hasilnya sama sekali tidak menor, bahkan soft dan sesuai harapan saya (kayak yang di foto ini loh, cakep kan, hehe). Bahkan menurut saya lebih rapi dari si Mbak yang ngerjain Mama.

So, pelajaran hari ini, diingetin lagi untuk "Don't Judge a Book by Its Cover".  Si Bapak boleh berpenampilan "gahar" tapi tangannya ternyata mampu memoles halus wajah saya hingga berpenampilan (makin) cantik sepanjang hari ini!

*** Sayangnya saya gak sempat foto si Bapak karena saking deg2an-nya waktu di make-up dan saking senangnya pas lihat hasilnya ternyata bagus :)

Jakarta, 6 Oktober 2013
6.20 PM

It's Not Always Rainbows & Butterflies...


Hasil pre interview beberapa hari yang lalu, dapat petuah bijak dari narasumber. Beliau adalah suami dari seorang penyanyi kondang era 70-80an. Usianya sekitar 70 tahunan, sudah 36 tahun mengarungi bahtera rumah tangga.

Kata Si Bapak:

"Pernikahan itu ibaratnya perjalanan di atas kapal untuk menyeberang ke berbagai pulau. Di kapal itu kan sudah ada aturannya, misalnya hanya mampu menampung berat 100 kg. Sementara suami dan istri masing-masing sudah membawa 100 kg. kalau dipaksakan naik, kapal akan tenggelam karena kelebihan beban. Nah, berarti masing-masing harus mengurangi 50 kg sehingga kapal tetap bisa berlayar. Ketika sudah sampai tujuan dan ingin pergi ke pulau berikutnya, kapal tetap hanya bisa menampung 100 kg. Sementara pasangan ini sudah punya anak, misal beratnya 20 kg. Artinya, supaya bisa naik kapal, masing-masing harus mengalah dan mengurangi 10 kg sehingga hanya membawa 40 kg per orang agar sang anak bisa ikut berlayar"

Baiklah, Pak, get the point. Marriage is about compromising dan bersama-sama menanggung beban.

Kalau kata si seksi Adam Levine - Maroon 5 dalam "She Will Be Loved"....

"Tidak selamanya (suatu hubungan) diwarnai pelangi dan butterfly feeling. Kompromi lah yang membuat kita terus berjalan."

Tapi kalau boleh saya teruskan Pak, jangan sampai ada salah satu pihak yang terlalu banyak mengurangi atau bahkan menghabiskan beratnya sementara pihak yang lain hanya sedikit atau malah tidak mengurangi beratnya. Kompromi juga tidak boleh kebablasan kan?

Ingat pesan Janis Joplin...

"Jangan berkompromi dengan dirimu sendiri. Hanya dirimu lah yang kamu punya."

Hhmm... Mungkin kalau digabungkan antara perkataan si Bapak, Adam Levine dan Janis Joplin, kompromi sah-sah saja bahkan perlu tapi jangan sampai membuat kita kehilangan jati diri. Because after all, you are all you've got.

Ah, tapi entahlah. Itu kan hanya menurut saya (yang belum pernah menikah) lho! :)

***
Jakarta, 28 Agustus 2013
02:20 AM

Monday, August 12, 2013

Lebaran = "Kapan Nikah?"


Lebaran dan menikah? Apa hubungannya? 

Ada. Saat bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat di hari Lebaran, menikah adalah salah satu topik hangat yang kerap diperbincangkan. Kalau di Twitter, jadi semacam#TrendingTopic begitulah.

Tak heran, karena menikah adalah salah satu fase kehidupan yang dianggap penting oleh kebanyakan orang. Dan coba perhatikan, saat bersilaturahmi di hari lebaran, pasti obrolan tak jauh dari seputar pencapaian dalam hidup. Wajar saja kalau pertanyaan "Kapan menikah?" atau "Sudah menikah?" jadi sangat akrab di telinga. 

"Aduh males banget deh ntar lebaran ketemu sodara-sodara, pasti ditanya-tanya kapan kawin lagi nih..," begitu keluhan beberapa sahabat wanita yang seumur. Ya, gara-gara sering ditanya soal menikah, bagi perempuan single usia 30 tahun-an seperti kami, bersilaturahmi di hari raya kadang menjadi momok yang ingin dihindari.

Walaupun sebenarnya, pertanyaan soal menikah sudah saya alami setiap hari lebaran sejak saya sudah bekerja atau di saat usia saya dianggap cukup untuk menikah, let say, umur 26/27 tahun. Saat karier saya sudah berangsur mapan tapi belum juga menikah, pertanyaannya pun berimprovisasi"Terlalu milih-milih ya?" atau "Karier terus ya yang dipikirin sampai lupa nikah?"

Lebaran tahun 2012 lalu, kebetulan saya sedang punya pacar. Namun karena alasan yang terlalu pribadi untuk saya ungkapkan kepada para kerabat itu, kami belum bisa merealisasikan niat baik untuk menikah. Jadilah saya tetap belum punya jawaban bila ditanya. Tapi para handai taulan tersebut seakan tak kehabisan ide. Pertanyaan pun berkembang jadi nasehat berkepanjangan. "Tunggu apa lagi sih? Kan udah sama-sama mapan. Jangan ditunda-tunda loh nikah itu, nanti jadi dosa.." Kira-kira begitulah.  Sepertinya di mata mereka, meski sudah banyak pencapaian yang saya raih dalam hidup, kebahagian saya belum juga lengkap bila belum menikah. Jujur saja, tak jarang hari raya yang seharusnya penuh kebahagian ternoda dengan kekesalan akibat ulah para kerabat yang 'sok tau' itu.

Tapi ada yang berbeda di hari lebaran siang tadi. Begini ceritanya. Sebelum kami bersilaturahmi, kabar tentang saya yang sudah putus dengan pacar yang saya ceritakan sebelumnya dan adik laki-laki bungsu saya yang akan segera menikah, sudah beredar. Saya pun langsung membayangkan celetukan-celetukan kreatif yang mungkin mereka lontarkan, misalnya "Wah masa sampai dilangkahin sama adik bungsunya? Buruan cari lagi yang baru, gak usah kebanyakan milih deh..."

Tak disangka, yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada komentar yang membuat panas telinga. Yang muncul cuma tanggapan bernada positif. "Ambil hikmahnya aja, berarti emang belum jodoh. Jodoh itu rahasia Allah, nanti juga dipertemukan kalau udah waktunya.." dan"Tante juga dulu nikahnya belakangan dari adik-adik, jadi tenang aja.."

Saya pun senang. Hati dan bibir tersenyum. Akhirnya mereka bisa mengerti, belum menikah belum tentu tidak bahagia. Saya dan para Tante dan Om itu pun akhirnya bisa satu frekuensi, bahwa Happiness is a State of Mind, kebahagian tergantung cara berpikir kita. Pengalaman lebaran hari ini jadi lebih menyenangkan karena tidak menyisakan kedongkolan dalam hati.

Tadinya saya pikir begitu...

Saat tengah bersalaman untuk pamit pulang, tiba-tiba salah seorang Tante menatap saya dengan penuh iba, lalu menepuk pundak saya sambil berkata lirih, "Sabar yaa...."

Oh, no! Ternyata saya masih juga dikasihani karena belum menikah!

***
"Happiness does not depend on what you have or who you are, it solely relies on what you think" - Buddha


Jakarta, 10 Agustus 2013
2.45 AM

Friday, February 24, 2012

A Different Kind of New Year

Kata orang sakit itu gak enak. Apalagi, kalau sakitnya di penghujung tahun menjelang perayaan tahun baru. Semakin gak enak lagi, kalau saat itu sedang berada di Bali.


Jauh-jauh hari saya sudah mengambil jatah cuti supaya bisa menyambut tahun baru di Bali. Saya sangat excited, karena rencananya di sana saya akan merayakan pergantian tahun bersama pacar, sahabat dan juga keluarga. Lengkap kan? Wajar saja, kalau saya langsung menyusun beragam aktivitas yang akan saya jabani di sana bersama orang-orang tercinta.


Saya berangkat tanggal 28 Desember, dan rencananya akan ada di Bali sampai tanggal 2 Januari. Saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di Denpasar, badan saya sudah mulai terasa tidak enak. Lemas dan pusing. Tapi saya pikir, mungkin cuma kelelahan biasa, karena beberapa hari sebelumnya saya kerap disibukkan dengan kegiatan syuting yang tentunya menyita tenaga dan pikiran. Namun setelah sempat beristirahat, saya belum juga merasa baik. Malam harinya, tubuh saya menggigil dan demam panas dingin.



Pagi hari 29 Desember, saya merasa sedikit lebih baik. Demam berkurang meski kepala masih terasa pening. Tapi, rasanya sayang kalau di Bali hanya diam di kamar. Saya memaksakan diri pergi ke pantai. Sebelumnya saya sempatkan diri berobat ke klinik terdekat. Namanya Legian Clinic. Setelah diperiksa, kata dokter, mungkin saya hanya kelelahan saja. Saya diberi dua jenis obat, salah satunya antibiotik. Saya agak kaget saat membayar biaya berobat sebesar Rp. 250 ribu: Rp. 150 ribu untuk dokter umum (bukan spesialis) dan Rp. 100 ribu untuk dua jenis tablet. Padahal klinik tersebut sangat sederhana. Ternyata harga yang diberikan kepada saya itu pun khusus untuk warga lokal. Karena saya sempat mendengar sang perawat menjelaskan melalui telepon dalam bahasa inggris (saya berasumsi ia sedang berbicara dengan turis asing), "If you come here, you have to pay Rp. 450.000 for the doctor only, excluded the medicines and treatments. If we come to your hotel, you'll have to pay Rp. 950.000 just for the doctor."


Obat yang saya minum cukup ampuh membuat tubuh lebih bertenaga sepanjang hari itu, meski belum terasa segar. Tapi malam harinya, lagi-lagi saya demam panas dingin, ditambah flu dan batuk yang tak juga reda. Saya mulai khawatir terkena thypus. Karena konon gejala penyakit itu, deman tinggi di malam hari, namun turun di pagi hari.


Benar saja. Pagi harinya 30 Desember, demam saya turun. Tapi kepala masih berat dan makanan selezat apa pun terasa hambar di lidah. Tapi dasar tidak pernah bisa diam, saya tetap memaksakan diri menghirup udara segar. Apalagi, Adji sempat menyemangati,"Jangan dirasain deh sakitnya. Coba ditanam di kepala 'aku sehat kok' gitu..." Saya dan Adji pun jalan-jalan di sekitar Seminyak, lalu menunggu sunset di La Plancha. Saat itu, saya masih tak sepenuhnya merasa fit. Selepas magrib, saya kembali menggigil dan panas dingin. Padahal, mulanya malam itu saya dan Adji berencana menyusul Aini, Achy, Suryo dan Ogi yang sedang nongkrong di Warung Ocha. Saat menelepon Aini untuk membatalkannya, Aini menyarankan saya periksa ke dokter lain. Saya memang sempat berpikir ingin berobat lagi ke salah satu rumah sakit yang menjadi provider asuransi yang disediakan kantor (supaya tidak perlu mengeluarkan uang lagi). "Jangan, rumah sakitnya jauh di Denpasar. Loe sama Adji kan naik motor, yang ada malah makin sakit masuk angin," kata Aini. "Mending loe ke Bali Clinic aja deh, dokter-dokternya disana lebih bagus. Gw jemput elo sekarang ya, kita konvoi motor," tambah sahabat saya yang tinggal dan bekerja di Bali ini.


"Gak kok, ini bukan Thypus, hanya radang aja. Cuma tubuhnya lagi lemah, jadi bakteri gampang masuk," jelas dokter yang memeriksa saya di Bali Clinic. "Nah, obat yang dikasih dokter kemarin ini, antibiotik yang kualitasnya paling rendah, sementara sepertinya kamu sudah sering mengkonsumsi antibiotik yang lebih tinggi, sehingga yang ini gak mempan. Obatnya saya ganti dan saya tambah ya. Lalu saya suntik ya, supaya radangnya cepat reda."Saya langsung merasa lega. Setidaknya saya tidak terkena thypus. Saya tidak bisa membayangkan bila nantinya harus bed rest di tengah kemeriahan perayaan tahun baru di Bali.


Lagi-lagi biaya yang harus saya bayar cukup mencengangkan. Rp. 850 ribu, dengan perincian Rp. 350 ribu untuk dokter umum dan Rp. 500 ribu untuk 4 jenis obat dan suntik. Kliniknya memang lebih baik daripada Legian Clinic, tapi rasanya seumur hidup baru kali ini saya membayar Rp. 350 ribu untuk dokter umum. Biasanya dengan jumlah yang sama, saya bisa mendapatkan jasa dokter spesialis ternama di Jakarta.


Esok harinya, 31 Desember, saya merasa jauh lebih segar. Makanan pun mulai ada rasanya di lidah. Rencana malam tahun baru pun disusun. Nanti malam, saya, Adji, Aini, Achy, Suryo, Ogi dan Tania yang baru tiba di Bali dini hari tadi akan makan malam di resto Khaima. Tapi sebelumnya, saya dan Adji berjanji akan menjemput mama saya, Manda (adik saya) dan Flo (sahabat Manda) di bandara. Mereka dijadwalkan tiba di Bali sekitar pukul 6 malam.


Sayangnya pesawar mereka delay, sehingga baru mendarat sekitar pukul 9 malam. Saya dan Adji pun tak bisa gabung di acara dinner bersama teman-teman yang lain. Akhirnya saya, Adji, Mama, Manda & Flo makan di Warung Italia tak jauh dari hotel. Saat menyusuri sepanjang jalan Dhyana Pura yang sesak, jam 12 malam tiba. Jadilah kami merayakan pergantian tahun hanya sambil menyaksikan kembang api di pinggir jalan. Bukan di pinggir pantai seperti bayangan saya.


Setelah mengantar Mama ke hotel, mulanya saya, Adji, Manda dan FLo berniat menyusul teman-teman lain yang sudah bergeser dari Khaima ke La Barca Beach Club. Tapi ternyata mereka sudah bergerak kembali ke hotel tempat Achy & Suryo menginap. Akhirnya kami berjanji bertemu di sana dan menghabiskan malam hingga menjelang subuh disana. Tidak ada yang istimewa, kami hanya berkumpul dan mengobrol. Tahun baru saya kali ini dirayakan tanpa pesta, musik hingar bingar dan alkohol (padahal saya sedang berada di Bali, dimana semua hal itu sangat mudah didapat).


Saya tahu, pengalaman yang saya ceritakan di atas, panjang dan mungkin terkesan bertele-tele. Tapi sungguh, banyak pelajaran berharga yang saya petik dari rentetan kejadian itu.


Pertama, hidup memang selalu diwarnai perjuangan. Akhirnya, sesuai rencana, saya tetap bisa merayakan tahun baru dalam keadaan sehat dikelilingi sahabat, pacar dan keluarga, namun jalan menuju ke sana sungguh berliku. Saya harus dua kali bolak balik ke dokter dan mengeluarkan uang yang tak sedikit. Kedua, orang yang tulus peduli kepada saya, terbukti ketika mereka juga ada untuk saya di saat yang tidak menyenangkan. Aini dengan sigap langsung mengantar saya ke dokter padahal saat itu ia sedang hang out bersama teman-teman lain. Adji rela tidak sepenuhnya bersenang-senang di Bali demi menemani dan merawat saya yang sedang sakit. Padahal ia jarang dan bahkan sulit mendapat izin cuti. Ketiga, kesehatan itu memang mahal harganya, baik dalam arti sebenarnya, maupun dalam tanda kutip. Total saya harus mengeluarkan Rp. 1,1 juta untuk berobat dalam 2 hari berturut-turut. 'Mahal' karena semua pesona dan keriaan yang ditawarkan Bali cuma bisa dinikmati dalam keadaan sehat walfiat. Saat sakit, semua jadi tak ada artinya.


Dan ternyata, rentetan peristiwa kurang menyenangkan itu berlanjut di hari pertama tahun 2012, 1 Januari. Mobil rental yang dikemudikan Adji menabrak mobil lain saat macet. Kapnya penyok. Kami pun terpaksa harus mengganti biaya perbaikannya. Pelajaran lain pun didapat: hidup tak pernah lepas dari cobaan (bahkan di hari pertama tahun 2012). Lalu, di hari yang sama, Aini yang gantian sakit. Ia demam tinggi. Gantian, saya, Adji dan Tania yang mengantarnya ke dokter. Flo yang menginap di kost Aini juga tak lupa membelikan obat-obatan dan makanan. Again, another lesson learned: that's what friends are for!


Last, but not least...

Have a blessed 2012. Since the very beginning of it, I knew that I am truly blessed!


***


"Blessed is the influence of one true, loving human soul on another" -- George Eliot


Jakarta, 9 Februari 2012

00.33 AM

Thursday, December 22, 2011

Bubur Ayam, Sandal Sepatul Biru & Arti Berbagi

Adakah hubungan antara bubur ayam, sepasang sandal sepatu biru dengan arti berbagi ? Ada. Dan bagi saya, ketiganya punya kisah yang saling berkaitan.


Begini ceritanya. Di suatu pagi yang cerah dalam perjalanan menuju ke kantor, saya dan Adji berhenti sejenak untuk sarapan. Pilihan kami jatuh ke Bubur Ayam Jalan Tanjung di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Bubur ayam ala kaki lima ini memang sudah jadi langganan saya sejak duduk di bangku SMP dan masih tinggal di rumah almarhum kakek di pinggiran Menteng. Suwiran ayamnya yang gurih dan sambal cabainya yang pedas, kerap membuat saya ketagihan.


Setelah memarkir mobil dengan rapi, kami lantas memesan dua mangkok bubur ayam. Sejurus kemudian, mata kami menangkap sosok seorang pemuda yang tengah duduk di pinggir trotoar. Usianya mungkin sekitar 30 tahun. Di sebelahnya tergeletak kotak yang terbuat dari kayu. Saya langsung tahu, ia adalah tukang semir sepatu yang biasa menawarkan jasa kepada pembeli bubur ayam. Tak salah ia memilih mangkal disini, karena sebagian besar penikmat bubur ayam ini adalah pekerja kantoran yang sengaja mampir untuk mengisi perut sebelum ke kantor. Bisa jadi, mereka lupa membersihkan atau menyemir sepatu sehingga bergunalah jasa si tukang semir.


Spontan Adji membuka jendela mobil dan menyapa si tukang semir. "Mas, saya pesanin bubur ya? Belum makan kan?". Si tukang semir menjawab, "Gak usah, Mas. Kalau mau saya bersihin aja sepatu Mas." Adji masih memaksa "Gak apa-apa, Mas, pesan aja..." Si Tukang semir tetap bersikukuh "Jangan, Mas. Saya sikatin aja sepatu Mas ya." Katanya sembari menghampiri mobil kami.


Sayangnya, hari itu Adji tidak sedang memakai sepatu rapi. Ia cuma menngenakan sandal gunung. "Kamu mau?" Tanya Adji kepada saya. Saya pun melirik ke arah kaki. Saya juga tidak sedang memakai sepatu tertutup. Telapak kaki sayang dilindungi sandal sepatu berwarna biru merek Crocs yang talinya terbuat dari sejenis kain. Dari luar sandal sepatu itu masih tampak bersih. Namun saya pikir tak ada salahnya juga bila dibersihkan. Saat melepaskan sandal barulah saya ingat di bagian dalamnya ada noda kotor yang belum berhasil saya hilangkan. Memang saya akui, saya kurang berusaha keras membersihkannya. Saya pikir yang penting sandal tersebut nyaman dipakai dan dari luar tampak bersih penampilannya.


Pesanan kami datang. Saat kami makan di mobil, si tukang semir duduk persis di trotoar samping mobil kami. Ia menyikat tiap sudut sandal saya dengan sabun lalu mengelapnya hingga bersih. Usai makan, Adji keluar dari mobil untuk merokok. Sayup-sayup saya mendengar Adji dan si tukang semir ngobrol tapi saya tak bisa menangkap isi pembicaraan mereka.


Selesailah sandal saya dibersihkan. Si tukang semir lantas memperlihatkan setiap sisi sandal sepatu biru itu. Saya lihat, noda di dalamnya telah raib. Sandal saya tampak seperti baru. Setelah membayar bubur, Adji memberikan upah kepada si tukang semir. "Terima kasih, Mas." Kata si tukang semir sambil tersenyum.


"Tadi dia cerita sama aku, kalau dia menolak dibeliin bubur karena pernah punya pengalaman buruk. Dulu dia pernah terima uang dari pembeli bubur tanpa menjual jasa. Dia lalu dimarahi satpam setempat dan dituding mengemis. Sejak itu, dia gak pernah lagi mau terima uang secara cuma-cuma. Dia bertekad harus bekerja untuk dapat uang." Cerita Adji saat kami melanjutkan perjalanan ke kantor.


Saya langsung tersentak. Si tukang semir begitu bersemangat melakukan pekerjaannya yang jelas lebih banyak mengerahkan tenaga fisik. Saya hampir yakin, saat tidak sedang mencari nafkah, ia pun kerap menggunakan fisiknya untuk menyelesaikan pekerjaan lain. Saya lalu membandingkan dengan diri sendiri. Saya sering mengeluh malas saat berangkat ke kantor. Padahal profesi yang saya jalani tidak menguras tenaga fisik seberat si tukang semir. Di rumah pun kadang saya malas beres-beres. Contohnya, saya tidak pernah berusaha keras untuk membersihkan noda di bagian dalam sandal sepatu saya ini. Padahal di tangan si tukang semir, tak sampai lima menit, noda tersebut bisa hilang. Saya jadi malu pada diri sendiri.


"Aku tadi sengaja manggil dia nawarin bubur, karena aku lihat dia elus-elus perut. Kasihan, dia tampak kelaparan..." Adji menambahkan.


Ah sungguh. Indahnya berbagi di pagi hari itu. Lebih nikmat dari semangkok bubur ayam panas yang telah mampu mengganjal perut saya sebelum bekerja di awal hari itu. Karena selain kepuasan batin dan pelajaran berharga yang didapat, sandal sepatu biru kesayangan yang nyaman mengiringi langkah saya berakivitas pun akhirnya kembali bersih bak sepatu baru.


***


"You only keep what you give away." -- R.E. Philips


“Our best thoughts come from others.” -- Ralph Waldo Emerson


Jakarta, 12 Desember 2011

02.35 AM