
This is a story about a boy and a girl...


***
Jakarta, 26 Januari 2011
01.30 AM

One lovely evening in late February 2009, three best friends went out to a fine wine lounge located in the center of Jakarta. They ordered a bottle of Moet & Chandon Champagne.
After it was chilled, the waiter poured the champagne into three glasses. Then, the three girls lifted their glasses and made a toast. They said, "Cheers to Europe!". Yes, they had a dream that one day they could live in Europe and even conquer that continent by setting their foot on as many European cities as possible.
Surprisingly, as days went by, each girl got what she wished for :)
The first girl left Jakarta for Europe in September 2009. She was granted a scholarship to pursue her master degree. She stayed in The Hague, the Netherlands, for a year until October 2010. During her stay, she had visited many cities in different European countries.
The next girl went for a holiday in Europe during November - December 2009. This was not her first time though. She had been to Europe many times before but she could never get enough of it. She wanted to visit more and more places around the continent. However, Paris has always been her favorite city.
The last girl is just about to begin her journey at the end of January 2011. She received a fellowship to join a three-month short course in Hilversum, the Netherlands. Of course, she is planning to go to other Schengen countries as well during her stay. For example, celebrating Valentine's Day at the top of the Eiffel Tower.
So, be careful what you wish for, as it might come true! But most importantly, don't ever give up on your dream and always find ways to fulfill them. Because even the simplest thing such as casting a spell on three glasses of Moet & Chandon Champagne, could actually make your dream come true :)
***
Jakarta, January 15th 2010
02.24 AM
Usai menyaksikan final Piala AFF di sebuah cafe di kawasan Kebayoran Baru 29 Desember 2010 lalu, seorang teman wanita yang bisa meramal mencoba membaca telapak tangan saya. Saat memperhatikan tangan kanan saya, ia berkata, "Loe baru patah hati ya? Udah, ikhlasin aja deh semua yang udah terjadi. Jangan dendam. Loe akan dapat yang lebih baik kok, dalam waktu dekat sepertinya. Tapi dengan syarat loe harus ikhlasin dulu yang ini. Kalau loe belum ikhlas, susah, karena fokus loe akan ke yang ini terus." Sang teman juga menambahkan, "Lagipula, antara penasaran dan cinta beneran itu bedanya tipis lho. Mungkin aja loe belum bisa ikhlas hanya karena masih penasaran sama orang ini."
Saya memang suka diramal, tapi cuma untuk iseng-iseng saja. Saya juga tak mudah percaya pada suatu ramalan. Namun, apa yang dilontarkan teman saya di penghujung tahun lalu itu kebetulan sama dengan yang saya alami. Saya pernah dekat dekat dengan seorang pria. Hubungan kami berakhir tidak baik. Kami bahkan tidak lagi berteman. Tepatnya, ia yang memilih untuk memutuskan kontak apa pun dengan saya. Jujur saja, meski kini rasa sakit hati saya sudah berangsur-angsur hilang, namun terkadang saya belum sepenuhnya ikhlas. Saya tidak rela "dimusuhi", karena merasa telah mencurahkan segenap perasaan, tenaga dan waktu saya untuknya. Sepertinya, pengorbanan saya kok tidak sebanding dengan perlakuannya terhadap saya.
Dari berbagai referensi yang saya baca, ikhlas bisa berarti bersih hati, tulus, rela, atau tanpa pamrih. Berbicara soal ikhlas, ingatan saya juga kembali ke awal tahun 2010, saat masih kuliah di Belanda. Apartemen seorang teman yang juga sesama mahasiswi dari Indonesia dibobol maling. Ia kehilangan laptop, handy cam, dan perhiasan emas. Kerugiannya kalau tidak salah lebih dari 1000 euro atau sekitar 12 juta rupiah. Tentu saja, teman saya itu shock. Tapi hebatnya, kejadian itu tidak membuat ia berlarut-larut dalam kesedihan. Seingat saya, hanya dalam beberapa hari teman saya itu sudah ceria kembali. Ia berkata, "Diikhlasin aja lah. Harta kan cuma titipan di dunia ini." Sungguh, saya kagum dengan keikhlasan hatinya.
Bagi sebagian orang, mengikhlaskan kehilangan yang berhubungan dengan materi bisa jadi sedikit lebih mudah. Karena banyak orang yang berprinsip bahwa 'rezeki bisa dicari lagi', 'kalau masih rezeki akan kembali lagi', atau 'Insya Allah akan dapat yang lebih bagus'. Tapi bagaimana dengan mengikhlaskan hal lainnya, seperti kehilangan kesempatan berharga atau orang yang kita sayangi? Atau mengikhlaskan perasaan yang sudah kita limpahkan tanpa mengharapkan balasan yang sama. Contohnya seperti pengalaman saya diatas. Bagi saya, ini tampak lebih sulit.
Di tengah-tengah upaya saya untuk bisa lebih ikhlas, percakapan dengan seorang rekan kerja di suatu pagi 7 Januari 2011 lalu menyentak saya. Sehari sebelumnya, rekan kerja saya itu kehilangan Blackberry miliknya yang tertinggal di mobil travel. Di hari yang sama, saya dan tim mengurus siaran langsung dari Bandung. Namun, kejadian itu tidak menganggu kinerja rekan kerja saya itu. Ia tetap bisa mngurus siaran dengan baik. Esok harinya, saat makan pagi bersama di hotel saya bertanya, "BB loe ketemu?". "Gak." Jawabnya. "Waduuh terus gimana dong?" Kata saya. Saya tahu rekan kerja saya itu tak bisa lepas dari BB-nya. Saya sendiri pun tak bisa membayangkan bila BB saya hilang. Benda itu sangat penting buat saya. Namun, rekan kerja saya hanya menjawab dengan santai, "Ya ikhlasin aja lah, Mbak. Cowok aja hilang bisa dapat yang lebih baik, masa cuma BB doang gak bisa dapat yang lebih bagus?"
Jawaban itu memang sederhana, tapi keikhlasan ditambah optimisme rekan kerja yang usianya lebih muda dari saya itu sekejab menyadarkan saya bahwa semua kesusahan yang saya alami terkait dengan pengalaman saya diatas adalah bagian dari proses untuk mendapatkan yang terbaik. Saya jadi sedikit malu, ternyata usia lebih matang bukan berarti lebih bijak.
Saya yang tadinya belum punya resolusi yang signifikan untuk tahun 2011 pun menemukan satu resolusi yang pasti: saya ingin belajar ilmu ikhlas! Saya sadar bila sudah ikhlas maka ganjalan di dalam hati akan hilang dan saya sejatinya akan lebih lapang melangkah. Saya akan memulai dengan mengikhlaskan semua yang sudah saya lalui dengan teman pria yang saya ceritakan di atas. Saya berharap ramalan teman saya akan terwujud, yaitu saya akan segera mendapatkan yang lebih baik. Boleh dong kali ini saya percaya ramalan? Toh ramalan itu turut andil memotivasi saya untuk terus belajar ikhlas! :)
***
"There are things that we never want to let go of, people we never want to leave behind. But keep in mind that letting go isn’t the end of the world, it’s the beginning of a new life.”-- Anonymous
"People come into your life for a reason, a season, or a lifetime. When you figure out which one it is, you will know what to do for each person."-- Jean Dominique Martin
Jakarta, 9 Januari 2011
02.22 AM
Tempat yang paling aman versi saya sederhana saja, yaitu saat berada di pelukan ibunda tercinta.
Saya biasa memanggil ibu saya dengan sebutan Mama. Saya punya kebiasaan yang belum bisa saya tinggalkan hingga sekarang. Bila pulang dari kantor dan menemui Mama sedang berdoa usai sholat, saya suka merebahkan kepala saya di pahanya. Biasanya Mama akan lanjut membaca doa meskipun saya "mengganggunya". Saat inilah saya merasa sangat tenang dan damai. Karena saya yakin saya sedang berada di tempat yang paling aman di dunia.
Setelah selesai berdoa, biasanya mama akan bertanya tentang hari yang baru saja saya lalui. Masih dalam posisi tidur di pahanya, saya akan menceritakan pengalamannya saya hari itu. Kadang kami bicara serius, kadang becanda. Saya paling suka bila Mama mengelus kepala saya saat saya berceloteh. Ya, meski usia saya sudah lebih sedikit dari kepala 3, saya memang masih gemar bermanja-manjaan dengan Mama.
Di usianya yang ke-57, Mama masih terlihat awet muda. Karena itu tak jarang bila kami sedang bersama, orang mengira Mama adalah kakak saya. Kalau sudah begitu, Mama akan tersenyum sumeringah karena senang dipuji awet muda. Seperti saya, Mama juga suka jajan dan mencoba makanan baru. Bahkan, Mama juga punya hobi yang sama dengan saya dan adik perempuan saya, yaitu belanja dan berwisata. Tak heran bila kami bertiga sering pergi bersama melakukan hal-hal yang kami sukai tersebut.
Sebagai orang tua, Mama memberi kebebasan kepada saya untuk bergaul dengan siapa saja. Contohnya, saat remaja saya tak pernah sekalipun mendapat ultimatum batasan jam malam. Saya bebas pergi kemana saja, dengan siapa saja. Mama percaya bahwa saya tahu dan sadar mana yang baik dan mana yang buruk. Saya pun tidak pernah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh Mama. Hingga kini, semua yang telah saya perbuat insya Allah bisa saya pertanggungjawabkan.
Satu hal yang sangat saya sadari, tanpa restu dari Mama, apapun yang saya lakukan tak akan berjalan lancar. Contohnya saat saya mendaftar program beasiswa StuNed tahun lalu. Mama sepertinya kurang sreg bila saya berangkat ke Belanda. Bukan karena tak ingin anaknya dapat gelar S2, tapi karena Mama tak mau terpisah jauh dari saya. Selain itu Mama juga sebenarnya ingin saya merealisasikan rencana yang berbeda selain sekolah lagi. Bulan Mei 2009, saya mendapat surat penerimaan beasiswa bersyarat. Saya akan dibiayai kuliah di The Hague University bila saya bisa melengkapi beberapa dokumen dalam 2 minggu. Tapi dalam jangka waktu, ada saja hambatannya. Mulai dari saya mendadak ditugaskan liputan ke luar negeri (sehingga waktu mengurus dokumen berkurang) sampai saya masuk rumah sakit karena gejala DBD. Akhirnya saya berhasil mengurus dokumen-dokumen itu dengan bantuan seorang sahabat. Namun saya merasa, semua upaya tersebut baru berangsur-angsur lancar setelah Mama mulai ikhlas dan merestui rencana studi saya tersebut.
Karena itu, dalam segala rencana yang saya punya, saya sadar bahwa restu dari Mama adalah syarat nomor satu yang harus dipenuhi. Sebab bila Mama sudah merestui, sejatinya jalan yang saya lalui akan aman dari segala "serangan" yang merintangi. Dan saya pasti akan merasakan hal yang persis sama seperti ketika saya merebahkan kepala di paha Mama saat beliau sedang berdoa usai sholat: berada di tempat paling aman di dunia!
Selamat Hari Ibu, Mama! Thank you for being the best mother anyone could ever have...
***
Jakarta, 24 Desember 2010
01.30 AM
**Saya sadar catatan ini terlambat dua hari karena Hari Ibu jatuh pada tanggal 22 Desember. Saya sebenarnya sudah sangat 'sakaw' untuk menuliskan curahan hati ini, namun kesibukan kantor membuat saya terpaksa menunda niat tersebut.

Paris, suatu malam di musim gugur...
Dengan antusias, perempuan itu menaiki satu per satu anak tangga di pilar utara Menara Eiffel. Masih ada sekitar 200 anak tangga yang harus ia daki. Dinginnya udara Paris malam itu, menambah berat perjuangannya untuk bisa sampai ke tingkat pertama Menara Eiffel. Namun, semua itu tidak menyurutkan semangatnya. Ia ingin menikmati pemandangan kota Paris dari ketinggian 57 meter.
Ia tak pernah meyangka bisa menapakkan kaki di ibukota Perancis ini. Perempuan itu datang ke Paris bersama seorang sahabat wanitanya. Mereka hanya berdua, dan cuma punya waktu 3 hari 2 malam. Namun, sang sahabat sudah pernah ke Paris sebelumnya dan telah berkali-kali menyambangi Menara Eiffel. Jadilah perempuan itu terpaksa naik ke atas seorang diri.
Tapi tak mengapa, pikirnya. Telah banyak ia lihat gambar-gambar indahnya kota Paris diambil dari atas Menara Eiffel. Ia ingin membuktikannya sendiri. Tapi, ia memutuskan hanya naik ke tingkat satu, karena antrean ke puncak Menara Eiffel lebih panjang dan ia malas mengantre tanpa ada teman ngobrol.
Akhirnya, perempuan itu sampai juga di teras tingkat satu Menara Eiffel. Pemandangan kota Paris berbalut lampu dari segala penjuru, langsung memanjakan matanya. Sungguh mempesona. Ia memang selalu sukacity lights. Memandangi kerlap kerlip lampu dari ketinggian.
Tangannya segera mengeluarkan kamera pocket yang disimpan di kantong jaket. Sayang, ia tidak punya kamera SLR. Kalau ada, pasti panorama ini bisa diabadikan dengan lebih sempurna. Tak mau ketinggalan ada di dalam foto, ia membalikkan arah bidikan kameranya, dan memotret diri sendiri.
"Do you want me to take your picture?" Seorang pria yang sedang melintas bersama pasangannya bertanya.
"Yes, please!" Jawab perempuan itu.
Klik!
"Here you go." Kata pria itu sambil menyerahkan kembali kameranya.
"Thank you..."
"You're very welcome!" Pria itu berlalu sambil memeluk pasangannya.
Perempuan itu baru sadar, hampir segala sudut Menara Eiffel dipenuhi pasangan yang tengah memadu kasih. Ada yang tua, ada yang muda. Ada yang berpelukan, berciuman, atau hanya saling pandang. Hhmm, Paris memang pantas dijuluki Kota Cinta. Love is in the air.
Ia pun berkhayal. Seandainya saja saat ini ada seorang pria yang menemaninya. Tapi ia tidak membayangkan kekasih atau suaminya atau pria tertentu. Perempuan itu belum menikah dan ia juga sedang tidak punya pacar. Ia hanya berandai-andai, suatu hari bisa menikmati Paris dari atas Menara Eiffel bersama seorang pria. Dalam hati ia pun mengucap doa: semoga suatu saat impian ini bisa terwujud!
***
Paris, suatu malam di musim semi...
Perempuan itu tak mengira bisa mengunjungi Menara Eiffel untuk kedua kalinya. Kali ini, ia rela ikut dalam antrean yang panjang dan membayar 13 euro agak bisa naik ke tingkat tiga atau puncak Menara Eiffel. Ia yakin pengorbanannya tak akan sia-sia. Karena kali ini ia tidak sendiri. Pria yang ada disampingnya akan menemaninya menyaksikan indahnya Paris di malam hari.
Ia mempererat genggamannya pada tangan pria itu. Sang pria pun tersenyum, lantas merengkuh bahunya. Perempuan itu tengah berbahagia. Impian yang ia punya sejak 2,5 tahun yang lalu akhirnya terwujud: berada di Menara Eiffel bersama seorang pria.
Keduanya memasuki lift yang akan membawa mereka ke tingkat dua. Lift bergerak. Perempuan itu senang. Tapi ada satu hal yang mengusik pikirannya. Perempuan itu menimang-nimang: haruskah ia ungkapkan kegalauan di dalam hatinya? Mungkin tidak perlu. Ia sebaiknya menikmati saja waktu yang ia punya bersama pria itu. Tapi ia tak bisa membohongi diri. Hatinya sungguh gundah gulana.
Sampailah mereka di tingkat dua. Ada antrean yang harus kembali dilalui untuk naik lift yang akan mengantar mereka ke puncak Eiffel. Keduanya berbaris di antrean tersebut.
Ah, sepertinya ia harus mengeluarkan uneg-uneg ini. Ia tak kuasa lagi membendung keresahan di hatinya.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Perempuan itu akhirnya memberanikan diri.
“Boleh...”
Ia ragu-ragu untuk melanjutkan. Tapi, ia ingin segera mengakhiri perasaan tidak nyaman ini.
“Kamu sering melakukan ini?”
“Maksudmu?”
“Ya seperti yang kita lakukan sekarang ini....”
Pria itu menghela nafas sambil tersenyum tipis. Perempuan itu langsung menyambar, mempertegas pertanyaannya.
“Maksudku, kamu sering mengkhianati kekasihmu seperti ini?”
Ya, pria itu memang sudah punya pacar. Dan bukan perempuan itu kekasihnya. Perempuan itu berada di tempat yang tepat, dengan perasaan yang tepat, tapi bersama orang yang salah: di Menara Eiffel, dengan perasaan cinta, tapi bersama pacar orang lain. Ah, ironis sekali.
Pria itu tampak berpikir sebelum menjawab.
“Sejujurnya ini bukan yang pertama. Sekitar 5 bulan yang lalu, ini pernah terjadi”
“Pacar kamu tahu?”
“Ya, akhirnya aku cerita. Aku selalu jujur padanya.”
“Dia gak marah?”
“Tentu dia kecewa. Tapi, dia maafkan aku...”
Mereka semakin dekat ke pintu lift. Pintu lift terbuka, keduanya masuk ke dalam. Lift bergerak. Kegundahan perempuan itu belum juga usai. Tapi ia menahan diri, menunggu sampai lift berhenti.
Begitu pintu lift terbuka, kerlap kerlip lampu yang menyelimuti kota Paris langsung terhampar di depan mata. Dari ketinggian 276 meter, pemandangan itu sangat memukau. Cuaca Paris yang saat itu hanya sekitar 13 derajat Celsius menambah romantis suasana malam itu. Pria itu memeluknya, sambil mengecup pipi perempuan itu. Ia pun balas memeluk sang pria. Namun, ia belum sepenuhnya lega. Masih ada ganjalan di hatinya.
Sambil menatap mata pria itu, ia bertanya, “Sedalam apa sih perasaan kamu ke aku? Beda gak dengan perasaanmu terhadap selingkuhanmu yang dulu? Atau bahkan terhadap pacarmu sekarang?”
“Aku gak pernah punya perasaan sedalam ini terhadap siapa pun sebelumnya. Cuma sama kamu. Setiap hari aku gak pernah berhenti mikirin kamu...” Pria itu meyakinkannya.
Perempuan itu puas dengan jawaban sang pria. Tapi, lubuk hatinya yang paling dalam melontarkan protes.
“Tapi kamu punya pacar. Seandainya dia gak ada, pasti semua ini akan lebih berarti. Kamu mau mutusin dia buat aku? ”
Pria itu mempererat pelukannya. Lalu, tangan kanannya mengangkat dagu perempuan itu.
"Kamu percaya kan aku sangat tergila-gila kepada kamu? Tapi kamu juga tahu, aku gak semudah itu bisa mutusin pacarku. Sudahlah, yang penting sekarang aku ada disini bersama kamu..."
"Aku percaya kamu, tapi..."
Belum sempat ia melanjutkan kalimat protesnya, pria itu perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir perempuan itu. Mengecupnya dengan lembut. Perempuan itu membalasnya. Mereka berciuman di puncak Menara Eiffel. Sekejab, perempuan itu lupa akan kegundahan di dalam hatinya.
Ah, perempuan itu tak peduli. Yang penting ia bisa bilang pada dunia bahwa ia pernah berada di puncak Menara Eiffel bersama seorang pria yang disayanginya. Tak masalah pria itu bukan miliknya. Seperti cinta itu sendiri, Paris bukan cuma punya sepasang kekasih atau suami istri. Paris juga milik mereka: Ia dan pria itu. Ia yakin, sampai kapan pun, they will always have Paris...
***