Thursday, January 30, 2014

Don't (Ever) Judge a Book By Its Cover

'Drama' terjadi pagi tadi saat persiapan acara lamaran adik saya, make-up artist yang sengaja kita panggil ke rumah nyasar.

"Mbak, nanti saya make-up Mama, Mbak di make-up sama suami saya aja ya, biar cepet." Kata si Mbak begitu sampai di rumah saya (dia memang datang naik motor diantar sang suami).

"&$*%#" HAH? Saya pun melongo.

Bukan apa2, pasalnya penampilan sang suami lebih mirip security kompleks rumah (badan besar, berkumis) daripada juru rias. Tapi karena waktu sudah mepet, saya terpaksa merelakan wajah saya digarap oleh si Bapak dengan jari-jarinya yang gempal.

"Jangan tebal2 bedaknya Pak, yg soft aja ya." Berulang kali saya ingatkan dia karena khawatir hasilnya wajah saya kayak lenong. Apalagi saat di make-up posisi saya tidak langsung di depan cermin karena dikuasai Mama.


"Sudah Mbak, coba dicek dulu." Dag dig dug, saya menghampiri cermin.

 Voila! 


Ternyata hasilnya sama sekali tidak menor, bahkan soft dan sesuai harapan saya (kayak yang di foto ini loh, cakep kan, hehe). Bahkan menurut saya lebih rapi dari si Mbak yang ngerjain Mama.

So, pelajaran hari ini, diingetin lagi untuk "Don't Judge a Book by Its Cover".  Si Bapak boleh berpenampilan "gahar" tapi tangannya ternyata mampu memoles halus wajah saya hingga berpenampilan (makin) cantik sepanjang hari ini!

*** Sayangnya saya gak sempat foto si Bapak karena saking deg2an-nya waktu di make-up dan saking senangnya pas lihat hasilnya ternyata bagus :)

Jakarta, 6 Oktober 2013
6.20 PM

It's Not Always Rainbows & Butterflies...


Hasil pre interview beberapa hari yang lalu, dapat petuah bijak dari narasumber. Beliau adalah suami dari seorang penyanyi kondang era 70-80an. Usianya sekitar 70 tahunan, sudah 36 tahun mengarungi bahtera rumah tangga.

Kata Si Bapak:

"Pernikahan itu ibaratnya perjalanan di atas kapal untuk menyeberang ke berbagai pulau. Di kapal itu kan sudah ada aturannya, misalnya hanya mampu menampung berat 100 kg. Sementara suami dan istri masing-masing sudah membawa 100 kg. kalau dipaksakan naik, kapal akan tenggelam karena kelebihan beban. Nah, berarti masing-masing harus mengurangi 50 kg sehingga kapal tetap bisa berlayar. Ketika sudah sampai tujuan dan ingin pergi ke pulau berikutnya, kapal tetap hanya bisa menampung 100 kg. Sementara pasangan ini sudah punya anak, misal beratnya 20 kg. Artinya, supaya bisa naik kapal, masing-masing harus mengalah dan mengurangi 10 kg sehingga hanya membawa 40 kg per orang agar sang anak bisa ikut berlayar"

Baiklah, Pak, get the pointMarriage is about compromising dan bersama-sama menanggung beban.

Kalau kata si seksi Adam Levine - Maroon 5 dalam "She Will Be Loved"....

"Tidak selamanya (suatu hubungan) diwarnai pelangi dan butterfly feeling. Kompromi lah yang membuat kita terus berjalan."

Tapi kalau boleh saya teruskan Pak, jangan sampai ada salah satu pihak yang terlalu banyak mengurangi atau bahkan menghabiskan beratnya sementara pihak yang lain hanya sedikit atau malah tidak mengurangi beratnya. Kompromi juga tidak boleh kebablasan kan?

Ingat pesan Janis Joplin...

"Jangan berkompromi dengan dirimu sendiri. Hanya dirimu lah yang kamu punya."

Hhmm... Mungkin kalau digabungkan antara perkataan si Bapak, Adam Levine dan Janis Joplin, kompromi sah-sah saja bahkan perlu tapi jangan sampai membuat kita kehilangan jati diri. Because after all, you are all you've got.

Ah, tapi entahlah. Itu kan hanya menurut saya (yang belum pernah menikah) lho! :)

***
Jakarta, 28 Agustus 2013
02:20 AM

Monday, August 12, 2013

Lebaran = "Kapan Nikah?"


Lebaran dan menikah? Apa hubungannya? 

Ada. Saat bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat di hari Lebaran, menikah adalah salah satu topik hangat yang kerap diperbincangkan. Kalau di Twitter, jadi semacam#TrendingTopic begitulah.

Tak heran, karena menikah adalah salah satu fase kehidupan yang dianggap penting oleh kebanyakan orang. Dan coba perhatikan, saat bersilaturahmi di hari lebaran, pasti obrolan tak jauh dari seputar pencapaian dalam hidup. Wajar saja kalau pertanyaan "Kapan menikah?" atau "Sudah menikah?" jadi sangat akrab di telinga. 

"Aduh males banget deh ntar lebaran ketemu sodara-sodara, pasti ditanya-tanya kapan kawin lagi nih..," begitu keluhan beberapa sahabat wanita yang seumur. Ya, gara-gara sering ditanya soal menikah, bagi perempuan single usia 30 tahun-an seperti kami, bersilaturahmi di hari raya kadang menjadi momok yang ingin dihindari.

Walaupun sebenarnya, pertanyaan soal menikah sudah saya alami setiap hari lebaran sejak saya sudah bekerja atau di saat usia saya dianggap cukup untuk menikah, let say, umur 26/27 tahun. Saat karier saya sudah berangsur mapan tapi belum juga menikah, pertanyaannya pun berimprovisasi"Terlalu milih-milih ya?" atau "Karier terus ya yang dipikirin sampai lupa nikah?"

Lebaran tahun 2012 lalu, kebetulan saya sedang punya pacar. Namun karena alasan yang terlalu pribadi untuk saya ungkapkan kepada para kerabat itu, kami belum bisa merealisasikan niat baik untuk menikah. Jadilah saya tetap belum punya jawaban bila ditanya. Tapi para handai taulan tersebut seakan tak kehabisan ide. Pertanyaan pun berkembang jadi nasehat berkepanjangan. "Tunggu apa lagi sih? Kan udah sama-sama mapan. Jangan ditunda-tunda loh nikah itu, nanti jadi dosa.." Kira-kira begitulah.  Sepertinya di mata mereka, meski sudah banyak pencapaian yang saya raih dalam hidup, kebahagian saya belum juga lengkap bila belum menikah. Jujur saja, tak jarang hari raya yang seharusnya penuh kebahagian ternoda dengan kekesalan akibat ulah para kerabat yang 'sok tau' itu.

Tapi ada yang berbeda di hari lebaran siang tadi. Begini ceritanya. Sebelum kami bersilaturahmi, kabar tentang saya yang sudah putus dengan pacar yang saya ceritakan sebelumnya dan adik laki-laki bungsu saya yang akan segera menikah, sudah beredar. Saya pun langsung membayangkan celetukan-celetukan kreatif yang mungkin mereka lontarkan, misalnya "Wah masa sampai dilangkahin sama adik bungsunya? Buruan cari lagi yang baru, gak usah kebanyakan milih deh..."

Tak disangka, yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada komentar yang membuat panas telinga. Yang muncul cuma tanggapan bernada positif. "Ambil hikmahnya aja, berarti emang belum jodoh. Jodoh itu rahasia Allah, nanti juga dipertemukan kalau udah waktunya.." dan"Tante juga dulu nikahnya belakangan dari adik-adik, jadi tenang aja.."

Saya pun senang. Hati dan bibir tersenyum. Akhirnya mereka bisa mengerti, belum menikah belum tentu tidak bahagia. Saya dan para Tante dan Om itu pun akhirnya bisa satu frekuensi, bahwa Happiness is a State of Mind, kebahagian tergantung cara berpikir kita. Pengalaman lebaran hari ini jadi lebih menyenangkan karena tidak menyisakan kedongkolan dalam hati.

Tadinya saya pikir begitu...

Saat tengah bersalaman untuk pamit pulang, tiba-tiba salah seorang Tante menatap saya dengan penuh iba, lalu menepuk pundak saya sambil berkata lirih, "Sabar yaa...."

Oh, no! Ternyata saya masih juga dikasihani karena belum menikah!

***
"Happiness does not depend on what you have or who you are, it solely relies on what you think" - Buddha


Jakarta, 10 Agustus 2013
2.45 AM

Friday, February 24, 2012

A Different Kind of New Year

Kata orang sakit itu gak enak. Apalagi, kalau sakitnya di penghujung tahun menjelang perayaan tahun baru. Semakin gak enak lagi, kalau saat itu sedang berada di Bali.


Jauh-jauh hari saya sudah mengambil jatah cuti supaya bisa menyambut tahun baru di Bali. Saya sangat excited, karena rencananya di sana saya akan merayakan pergantian tahun bersama pacar, sahabat dan juga keluarga. Lengkap kan? Wajar saja, kalau saya langsung menyusun beragam aktivitas yang akan saya jabani di sana bersama orang-orang tercinta.


Saya berangkat tanggal 28 Desember, dan rencananya akan ada di Bali sampai tanggal 2 Januari. Saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di Denpasar, badan saya sudah mulai terasa tidak enak. Lemas dan pusing. Tapi saya pikir, mungkin cuma kelelahan biasa, karena beberapa hari sebelumnya saya kerap disibukkan dengan kegiatan syuting yang tentunya menyita tenaga dan pikiran. Namun setelah sempat beristirahat, saya belum juga merasa baik. Malam harinya, tubuh saya menggigil dan demam panas dingin.



Pagi hari 29 Desember, saya merasa sedikit lebih baik. Demam berkurang meski kepala masih terasa pening. Tapi, rasanya sayang kalau di Bali hanya diam di kamar. Saya memaksakan diri pergi ke pantai. Sebelumnya saya sempatkan diri berobat ke klinik terdekat. Namanya Legian Clinic. Setelah diperiksa, kata dokter, mungkin saya hanya kelelahan saja. Saya diberi dua jenis obat, salah satunya antibiotik. Saya agak kaget saat membayar biaya berobat sebesar Rp. 250 ribu: Rp. 150 ribu untuk dokter umum (bukan spesialis) dan Rp. 100 ribu untuk dua jenis tablet. Padahal klinik tersebut sangat sederhana. Ternyata harga yang diberikan kepada saya itu pun khusus untuk warga lokal. Karena saya sempat mendengar sang perawat menjelaskan melalui telepon dalam bahasa inggris (saya berasumsi ia sedang berbicara dengan turis asing), "If you come here, you have to pay Rp. 450.000 for the doctor only, excluded the medicines and treatments. If we come to your hotel, you'll have to pay Rp. 950.000 just for the doctor."


Obat yang saya minum cukup ampuh membuat tubuh lebih bertenaga sepanjang hari itu, meski belum terasa segar. Tapi malam harinya, lagi-lagi saya demam panas dingin, ditambah flu dan batuk yang tak juga reda. Saya mulai khawatir terkena thypus. Karena konon gejala penyakit itu, deman tinggi di malam hari, namun turun di pagi hari.


Benar saja. Pagi harinya 30 Desember, demam saya turun. Tapi kepala masih berat dan makanan selezat apa pun terasa hambar di lidah. Tapi dasar tidak pernah bisa diam, saya tetap memaksakan diri menghirup udara segar. Apalagi, Adji sempat menyemangati,"Jangan dirasain deh sakitnya. Coba ditanam di kepala 'aku sehat kok' gitu..." Saya dan Adji pun jalan-jalan di sekitar Seminyak, lalu menunggu sunset di La Plancha. Saat itu, saya masih tak sepenuhnya merasa fit. Selepas magrib, saya kembali menggigil dan panas dingin. Padahal, mulanya malam itu saya dan Adji berencana menyusul Aini, Achy, Suryo dan Ogi yang sedang nongkrong di Warung Ocha. Saat menelepon Aini untuk membatalkannya, Aini menyarankan saya periksa ke dokter lain. Saya memang sempat berpikir ingin berobat lagi ke salah satu rumah sakit yang menjadi provider asuransi yang disediakan kantor (supaya tidak perlu mengeluarkan uang lagi). "Jangan, rumah sakitnya jauh di Denpasar. Loe sama Adji kan naik motor, yang ada malah makin sakit masuk angin," kata Aini. "Mending loe ke Bali Clinic aja deh, dokter-dokternya disana lebih bagus. Gw jemput elo sekarang ya, kita konvoi motor," tambah sahabat saya yang tinggal dan bekerja di Bali ini.


"Gak kok, ini bukan Thypus, hanya radang aja. Cuma tubuhnya lagi lemah, jadi bakteri gampang masuk," jelas dokter yang memeriksa saya di Bali Clinic. "Nah, obat yang dikasih dokter kemarin ini, antibiotik yang kualitasnya paling rendah, sementara sepertinya kamu sudah sering mengkonsumsi antibiotik yang lebih tinggi, sehingga yang ini gak mempan. Obatnya saya ganti dan saya tambah ya. Lalu saya suntik ya, supaya radangnya cepat reda."Saya langsung merasa lega. Setidaknya saya tidak terkena thypus. Saya tidak bisa membayangkan bila nantinya harus bed rest di tengah kemeriahan perayaan tahun baru di Bali.


Lagi-lagi biaya yang harus saya bayar cukup mencengangkan. Rp. 850 ribu, dengan perincian Rp. 350 ribu untuk dokter umum dan Rp. 500 ribu untuk 4 jenis obat dan suntik. Kliniknya memang lebih baik daripada Legian Clinic, tapi rasanya seumur hidup baru kali ini saya membayar Rp. 350 ribu untuk dokter umum. Biasanya dengan jumlah yang sama, saya bisa mendapatkan jasa dokter spesialis ternama di Jakarta.


Esok harinya, 31 Desember, saya merasa jauh lebih segar. Makanan pun mulai ada rasanya di lidah. Rencana malam tahun baru pun disusun. Nanti malam, saya, Adji, Aini, Achy, Suryo, Ogi dan Tania yang baru tiba di Bali dini hari tadi akan makan malam di resto Khaima. Tapi sebelumnya, saya dan Adji berjanji akan menjemput mama saya, Manda (adik saya) dan Flo (sahabat Manda) di bandara. Mereka dijadwalkan tiba di Bali sekitar pukul 6 malam.


Sayangnya pesawar mereka delay, sehingga baru mendarat sekitar pukul 9 malam. Saya dan Adji pun tak bisa gabung di acara dinner bersama teman-teman yang lain. Akhirnya saya, Adji, Mama, Manda & Flo makan di Warung Italia tak jauh dari hotel. Saat menyusuri sepanjang jalan Dhyana Pura yang sesak, jam 12 malam tiba. Jadilah kami merayakan pergantian tahun hanya sambil menyaksikan kembang api di pinggir jalan. Bukan di pinggir pantai seperti bayangan saya.


Setelah mengantar Mama ke hotel, mulanya saya, Adji, Manda dan FLo berniat menyusul teman-teman lain yang sudah bergeser dari Khaima ke La Barca Beach Club. Tapi ternyata mereka sudah bergerak kembali ke hotel tempat Achy & Suryo menginap. Akhirnya kami berjanji bertemu di sana dan menghabiskan malam hingga menjelang subuh disana. Tidak ada yang istimewa, kami hanya berkumpul dan mengobrol. Tahun baru saya kali ini dirayakan tanpa pesta, musik hingar bingar dan alkohol (padahal saya sedang berada di Bali, dimana semua hal itu sangat mudah didapat).


Saya tahu, pengalaman yang saya ceritakan di atas, panjang dan mungkin terkesan bertele-tele. Tapi sungguh, banyak pelajaran berharga yang saya petik dari rentetan kejadian itu.


Pertama, hidup memang selalu diwarnai perjuangan. Akhirnya, sesuai rencana, saya tetap bisa merayakan tahun baru dalam keadaan sehat dikelilingi sahabat, pacar dan keluarga, namun jalan menuju ke sana sungguh berliku. Saya harus dua kali bolak balik ke dokter dan mengeluarkan uang yang tak sedikit. Kedua, orang yang tulus peduli kepada saya, terbukti ketika mereka juga ada untuk saya di saat yang tidak menyenangkan. Aini dengan sigap langsung mengantar saya ke dokter padahal saat itu ia sedang hang out bersama teman-teman lain. Adji rela tidak sepenuhnya bersenang-senang di Bali demi menemani dan merawat saya yang sedang sakit. Padahal ia jarang dan bahkan sulit mendapat izin cuti. Ketiga, kesehatan itu memang mahal harganya, baik dalam arti sebenarnya, maupun dalam tanda kutip. Total saya harus mengeluarkan Rp. 1,1 juta untuk berobat dalam 2 hari berturut-turut. 'Mahal' karena semua pesona dan keriaan yang ditawarkan Bali cuma bisa dinikmati dalam keadaan sehat walfiat. Saat sakit, semua jadi tak ada artinya.


Dan ternyata, rentetan peristiwa kurang menyenangkan itu berlanjut di hari pertama tahun 2012, 1 Januari. Mobil rental yang dikemudikan Adji menabrak mobil lain saat macet. Kapnya penyok. Kami pun terpaksa harus mengganti biaya perbaikannya. Pelajaran lain pun didapat: hidup tak pernah lepas dari cobaan (bahkan di hari pertama tahun 2012). Lalu, di hari yang sama, Aini yang gantian sakit. Ia demam tinggi. Gantian, saya, Adji dan Tania yang mengantarnya ke dokter. Flo yang menginap di kost Aini juga tak lupa membelikan obat-obatan dan makanan. Again, another lesson learned: that's what friends are for!


Last, but not least...

Have a blessed 2012. Since the very beginning of it, I knew that I am truly blessed!


***


"Blessed is the influence of one true, loving human soul on another" -- George Eliot


Jakarta, 9 Februari 2012

00.33 AM

Thursday, December 22, 2011

Bubur Ayam, Sandal Sepatul Biru & Arti Berbagi

Adakah hubungan antara bubur ayam, sepasang sandal sepatu biru dengan arti berbagi ? Ada. Dan bagi saya, ketiganya punya kisah yang saling berkaitan.


Begini ceritanya. Di suatu pagi yang cerah dalam perjalanan menuju ke kantor, saya dan Adji berhenti sejenak untuk sarapan. Pilihan kami jatuh ke Bubur Ayam Jalan Tanjung di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Bubur ayam ala kaki lima ini memang sudah jadi langganan saya sejak duduk di bangku SMP dan masih tinggal di rumah almarhum kakek di pinggiran Menteng. Suwiran ayamnya yang gurih dan sambal cabainya yang pedas, kerap membuat saya ketagihan.


Setelah memarkir mobil dengan rapi, kami lantas memesan dua mangkok bubur ayam. Sejurus kemudian, mata kami menangkap sosok seorang pemuda yang tengah duduk di pinggir trotoar. Usianya mungkin sekitar 30 tahun. Di sebelahnya tergeletak kotak yang terbuat dari kayu. Saya langsung tahu, ia adalah tukang semir sepatu yang biasa menawarkan jasa kepada pembeli bubur ayam. Tak salah ia memilih mangkal disini, karena sebagian besar penikmat bubur ayam ini adalah pekerja kantoran yang sengaja mampir untuk mengisi perut sebelum ke kantor. Bisa jadi, mereka lupa membersihkan atau menyemir sepatu sehingga bergunalah jasa si tukang semir.


Spontan Adji membuka jendela mobil dan menyapa si tukang semir. "Mas, saya pesanin bubur ya? Belum makan kan?". Si tukang semir menjawab, "Gak usah, Mas. Kalau mau saya bersihin aja sepatu Mas." Adji masih memaksa "Gak apa-apa, Mas, pesan aja..." Si Tukang semir tetap bersikukuh "Jangan, Mas. Saya sikatin aja sepatu Mas ya." Katanya sembari menghampiri mobil kami.


Sayangnya, hari itu Adji tidak sedang memakai sepatu rapi. Ia cuma menngenakan sandal gunung. "Kamu mau?" Tanya Adji kepada saya. Saya pun melirik ke arah kaki. Saya juga tidak sedang memakai sepatu tertutup. Telapak kaki sayang dilindungi sandal sepatu berwarna biru merek Crocs yang talinya terbuat dari sejenis kain. Dari luar sandal sepatu itu masih tampak bersih. Namun saya pikir tak ada salahnya juga bila dibersihkan. Saat melepaskan sandal barulah saya ingat di bagian dalamnya ada noda kotor yang belum berhasil saya hilangkan. Memang saya akui, saya kurang berusaha keras membersihkannya. Saya pikir yang penting sandal tersebut nyaman dipakai dan dari luar tampak bersih penampilannya.


Pesanan kami datang. Saat kami makan di mobil, si tukang semir duduk persis di trotoar samping mobil kami. Ia menyikat tiap sudut sandal saya dengan sabun lalu mengelapnya hingga bersih. Usai makan, Adji keluar dari mobil untuk merokok. Sayup-sayup saya mendengar Adji dan si tukang semir ngobrol tapi saya tak bisa menangkap isi pembicaraan mereka.


Selesailah sandal saya dibersihkan. Si tukang semir lantas memperlihatkan setiap sisi sandal sepatu biru itu. Saya lihat, noda di dalamnya telah raib. Sandal saya tampak seperti baru. Setelah membayar bubur, Adji memberikan upah kepada si tukang semir. "Terima kasih, Mas." Kata si tukang semir sambil tersenyum.


"Tadi dia cerita sama aku, kalau dia menolak dibeliin bubur karena pernah punya pengalaman buruk. Dulu dia pernah terima uang dari pembeli bubur tanpa menjual jasa. Dia lalu dimarahi satpam setempat dan dituding mengemis. Sejak itu, dia gak pernah lagi mau terima uang secara cuma-cuma. Dia bertekad harus bekerja untuk dapat uang." Cerita Adji saat kami melanjutkan perjalanan ke kantor.


Saya langsung tersentak. Si tukang semir begitu bersemangat melakukan pekerjaannya yang jelas lebih banyak mengerahkan tenaga fisik. Saya hampir yakin, saat tidak sedang mencari nafkah, ia pun kerap menggunakan fisiknya untuk menyelesaikan pekerjaan lain. Saya lalu membandingkan dengan diri sendiri. Saya sering mengeluh malas saat berangkat ke kantor. Padahal profesi yang saya jalani tidak menguras tenaga fisik seberat si tukang semir. Di rumah pun kadang saya malas beres-beres. Contohnya, saya tidak pernah berusaha keras untuk membersihkan noda di bagian dalam sandal sepatu saya ini. Padahal di tangan si tukang semir, tak sampai lima menit, noda tersebut bisa hilang. Saya jadi malu pada diri sendiri.


"Aku tadi sengaja manggil dia nawarin bubur, karena aku lihat dia elus-elus perut. Kasihan, dia tampak kelaparan..." Adji menambahkan.


Ah sungguh. Indahnya berbagi di pagi hari itu. Lebih nikmat dari semangkok bubur ayam panas yang telah mampu mengganjal perut saya sebelum bekerja di awal hari itu. Karena selain kepuasan batin dan pelajaran berharga yang didapat, sandal sepatu biru kesayangan yang nyaman mengiringi langkah saya berakivitas pun akhirnya kembali bersih bak sepatu baru.


***


"You only keep what you give away." -- R.E. Philips


“Our best thoughts come from others.” -- Ralph Waldo Emerson


Jakarta, 12 Desember 2011

02.35 AM

Tuesday, November 1, 2011

Follow your heart vs Collectivism

"When in doubt, just follow your heart."

Bila ragu, ikuti saja kata hatimu. Begitu kata banyak orang.

Saya sendiri selalu berusaha menerapkan prinsip tersebut setiap hendak mengambil sebuah keputusan. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini saya tak bisa meraba kemana hati saya bergerak. Bahkan saya sulit mendengar apa yang ia ucapkan. Kalaupun mendengar, seringkali saya tak paham apa yang ia maksud.

Berada dalam kondisi seperti ini membuat saya berpikir keras. Apa kira-kira penyebab sulitnya saya mengikuti kata hati belakangan ini? Dan tiba-tiba saja, saya mengaitkannya dengan kenyataan bahwa saya hidup di dalam budaya kolektivis.

Bila anda masih asing dengan istilah tersebut, biar saya jelaskan sedikit. Saya sama sekali bukan ahli sosiologi, tapi kebetulan saya pernah cukup akrab dengan istilah ini saat belajar mata kuliah Culture & Communication. Menurut Geert Hofstede, seorang ahli antropologi dan psikologi sosial asal Belanda, lawan dari budaya individualis adalah budaya kolektivis dimana sejak lahir seseorang otomatis langsung terikat dengan suatu kelompok yang biasanya adalah keluarga luas (mencakup paman, bibi, kakek-nenek). Keluarga luas inilah yang akan terus menjaganya, namun sebagai imbalan, mereka menuntut kesetiaan yang tak bersyarat dari individu yang bersangkutan. Ayn Rand, seorang ahli filsafat asal AS menambahkan, budaya kolektivis menuntut pengorbanan dan kesediaan untuk mengalah terhadap kepentingan orang lain.

Lantas apa kaitan prinsip follow your heart dengan budaya kolektivis? Bisa jadi, karena ikatan yang kuat dengan kepentingan orang lain, prinsip follow your heart sulit dijalankan secara murni dalam budaya kolektivis. Pasalnya, setiap keputusan yang akan seseorang ambil seringkali diupayakan agak tidak merugikan atau menyakiti orang lain bahkan kalau bisa justeru menguntungkan atau menyenangkan bagi (terutama) orang-orang terdekat. Akibatnya, dalam mengambil keputusan, kepentingan orang lain menjadi salah satu unsur yang wajib djadikan bahan pertimbangan.

Contohnya beragam, kata hati Anda ingin menikah dengan pria/wanita idaman, namun orang tua punya kriteria lain. Kebanyakan cerita dalam budaya kolektivis, anda akan berpisah dengan sang kekasih dan terpaksa mengikuti kehendak orang tua. Anda masih ingin melakoni pekerjaan impian yang memang sering menuntut untuk lembur, tapi suami ingin Anda mengurus rumah tangga saja. Kasus lain, Anda belum ingin menikah, tapi semua mata sekan-akan menyuruh Anda untuk segera melepas masa lajang karena sudah sepantasnya (menurut mereka). Hidup dalam budaya kolektivis, bukan tak mungkin Anda akhirnya ikut uring-uringan meskipun kata hati Anda sebenarnya belum siap untuk menikah.

Bila akhirnya saya misalnya tetap mengikuti kata hati dan mengalahkan kepentingan orang lain, ada dua kemungkinan. Jika ternyata pilihan saya tepat, maka orang-orang sekitar pun ikut senang dan orang-orang yang turut menyumbangkan saran sesuai kata hati saya mungkin akan berkata, "Tuh kan benar, apa kata saya!". Tapi, bila pilihan saya salah, kalimat yang persis sama juga bisa saja saya dengar, namun dengan nada yang sumbang. Kalau ada lanjutannya kira-kira akan seperti ini, "...salah sendiri, udah dibilangin yang benar masih keukeuh..". Menyebalkan ya. Oke lah, pilihan saya salah, tapi saya kan cuma mencoba mengikuti kata hati saya.

Seorang sahabat wanita yang dikenal berpribadian sinis pernah berkata "Persetan dengan orang lain. Pada akhirnya elo sendiri yang ngejalanin hidup loe. Jadi jangan pernah ragu untuk ikutin kata hati loe." Saya sangat setuju dengan pendapatnya. Dan saya juga pernah merasakan betapa lebih bebasnya mengikuti kata hati saat tinggal di negara individualis seperti Belanda atau AS. Menyenangkan memang, karena saya jauh dari orang-orang terdekat sehingga saya bebas memutuskan apa saja sesuai kata hati tanpa harus memikirkan kepentingan mereka. Yang penting pilihan saya bisa saya pertanggungjawabkan. Namun, jujur mungkin karena dasarnya saya tumbuh dan besar dalam budaya kolektivis, di saat-saat itu saya juga kadang rindu sekedar meminta masukan dari sahabat-sahabat terdekat. Akhirnya video call melalui Skype atau YM menjadi ajang curhat antar benua. Ujung-ujungnya, saran mereka pun tetap saya jadikan pertimbangan.

Saya tahu, kata hati sejatinya tidak pernah salah. Kata hati pada akhirnya akan menuntun ke keputusan yang tepat. Hanya saja jalan yang harus dilewati untuk menuju kesana tak selamanya mulus. Tapi, bukankan itu yang namanya hidup?

So, always trust your heart. Dan pergilah kemana ia menuntunmu. Meskipun, mungkin.. hanya mungkin, untuk bisa konsisten mengikuti kata hati di tengah budaya kolektivis, butuh pribadi seteguh dan setangguh Nelson Mandela yang pernah mengutip bait puisi karya penyair asal Inggris Willian Ernest Henley:

"I am the master of my faith, I am the captain my soul... "

***

Jakarta, 20 Oktober 2010

11.53 PM

Tuesday, August 9, 2011

Siapa Takut Jatuh Cinta ?

Akhir-akhir ini saya takut jatuh cinta.

Alasannya beragam, namun klise. Saya pernah jatuh cinta lalu diselingkuhi. Saya juga pernah jatuh cinta tapi tidak bisa berlanjut karena dipisahkan oleh keyakinan. Jatuh cinta pada pacar orang, juga pernah saya alami. Kisah cinta tak berbalas, pun pernah menimpa saya.

Di tengah-tengah perasaan skeptis saya terhadap yang namanya 'jatuh cinta', saya membaca tulisan Dee yang berjudul 'Menunggu Layang-Layang'. Tulisan tersebut adalah salah satu cerita pendek yang ada dalam buku terbarunya, 'Madre'. Berkisah tentang persahabatan lawan jenis antara Christian dan Starla. Mereka punya kepribadian yang sangat berbeda. Christian adalah seorang arsitek yang nyaman dengan rutinitas, sementara Starla yang bekerja sebagai desainer interior adalah pecinta spontanitas. Christian kerap membentengi dirinya agar tidak mudah jatuh cinta sedangkan Starla gemar berganti-ganti pasangan. Uniknya, setiap akhir pekan mereka punya kebiasaan nonton film di bioskop yang sama. Namun, Christian selalu datang sendiri sementara Starla menggandeng teman kencan yang berbeda setiap minggunya.

Seperti kisah cinta lainnya, akhirnya bisa ditebak, Christian dan Starla saling jatuh cinta. Ternyata orang yang mereka cari selama ini justru sudah ada di depan mata. Ada dialog antara Christian dan Starla yang menggelitik saya.

“... Kamu ingin cinta, tapi kamu takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan..,Kata Starla. Che adalah panggilan Starla untuk Christian.

Setelah menjawab panjang lebar, Christian membalas, “...Nah, kembali ke analogimu tentang air. Kamu memang terjun ke air. Tapi kamu pakai baju selam...”

Sesaat Starla terdiam, lalu ia menjawab “Kamu benar. Ternyata kita sama Che, aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya aku mencari, kamu menunggu”

Saya sendiri pernah cuma diam menunggu cinta datang seperti Christian dan pernah juga gencar mencarinya seperti Starla. Tapi, sama seperti Starla. walaupun berani terjun ke air, saya selalu pakai baju selam. Saya tak pernah berani terjun tanpa pelindung.

Apa yang membuat saya begitu takut? Bagi saya pribadi, 'baju selam' tersebut adalah perumpaan bagi kriteria-kriteria yang saya jadikan pelindung sebelum memutuskan untuk jatuh cinta. Boleh saja saya jatuh cinta, tapi hanya terhadap seseorang yang punya beragam kriteria yang sudah saya tentukan. Akibatnya, saya harus menunggu sampai ada seseorang yang memenuhi semua kriteria tersebut. Atau bisa saja saya mencoba jatuh cinta pada seseorang yang cuma memenuhi sebagian dari semua kriteria tersebut, namun saat menjalaninya saya tetap pakai 'baju selam'. Saya belum rela untuk terjun apa adanya bila kriteria-kriteria itu belum terpenuhi semua. (Saya pernah buat tulisan tentang ini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=159226157424645).

Ribet ya? Memang. Bahkan seorang atasan pun pernah mencetus kalau saya punya kriteria yg kompleks. Contohnya saya ingin pasangan saya idealis tapi gaul. Sulit kan? Tak heran kalau saya jadi susah jatuh cinta bila terus berpatokan pada kriteria-kriteria itu.

Setelah mendengar kata atasan saya dan membaca cerita Dee, saya pun memutuskan untuk mencoba terjun ke air apa adanya, tanpa baju selam atau alat pelindung apa pun. Namun, tentu ada hal lain yang lebih kuat mendorong saya untuk akhirnya tak takut tenggelam.

Saya membandingkan dua peristiwa bertolak belakang yang pernah saya alami.

Dulu, ada seseorang yang memutuskan untuk membuang saya dari hidupnya dengan berkata “Setelah saya nilai ternyata kamu tidak memenuhi kriteria yg saya punya untuk seorang pasangan. Karenanya saya memutuskan untuk tidak menyukaimu lebih lanjut.”

Jujur, ucapan itu sempat mengikis rasa percaya diri saya. Saya marah karena merasa tidak dihargai tapi di saat yg sama saya juga sedih karena merasa tidak berharga. Tidak sebentar saya bisa membangun kembali percaya diri saya, bahwa saya adalah orang yang patut disukai.

Lalu, beberapa waktu berselang, ada seseorang lain yang ingin mengajak saya mengisi hari-harinya dengan berkata “Kamu membuat saya nyaman.”

Singkat. Dan sederhana. Tapi kalimat itu mampu membuat saya rela mencoba menanggalkan semua kriteria yang saya buat dan berani terjun ke air tanpa baju selam.

***

Jakarta, 8 Agustus 2011

02.05 AM

Thursday, June 23, 2011

Bandara Schiphol, Ulang Tahun Saya & Semuanya...

Bandara Schiphol - Amsterdam, Belanda

Rabu, 1 Juni 2011


Jam di tangan saya menunjukkan pukul 7 malam. Sementara waktu di Jakarta yang lebih cepat lima jam dari Amsterdam, tepat pukul 12 malam memasuki tanggal 2 Juni. Itu artinya, saya resmi berulang tahun! Ya, notifikasi Facebook dan BBM dari beberapa teman pun langsung menyadarkan saya akan dua hal: umur telah bertambah dan jatah hidup berkurang.


Saya sedang berada di ruang boarding, menunggu keberangkatan pesawat KLM yang akan membawa saya kembali ke Jakarta. Berulang tahun di bandara yang jaraknya hampir 12.000 kilometer dari tanah air memang baru sekali dalam hidup saya alami. Kesannya sudah pasti berbeda. Namun, bukan cuma sekali bandara Schiphol memberi kesan bagi saya. Saya mungkin sudah lupa tanggal pastinya tapi saya masih ingat jelas setiap perasaan yang pernah saya punya saat berada di bandara yang terletak di sebelah barat daya kota Amterdam ini.


Ingatan saya pun melayang ke serpihan- serpihan peristiwa itu. Lalu hati saya pun ikut bercerita dan merangkum semuanya...


***


Pertengahan September 2007

"Dames en Heren, welkom in Amsterdam..."

Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 14 jam, akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Schiphol. Hanya satu kata yang menggambarkan perasaan saya saat ini: Excited! Wajar saja, inilah pertama kalinya saya menginjak tanah Eropa. Saya akan mengikuti kursus Broadcast Journalism di RNTC, Hilversum, selama tiga bulan.


Setelah turun dari pesawat, melalui imigrasi dan mengambil bagasi, saya mengikuti arahan Henk Baard, sang Course Leader, dalam emailnya. "On arrival please go to the MEETING POINT in the Arrivals Hall. You will be met there by our taxi driver (he will be holding up a board with RNTC on it) and brought to the Guesthouse where you will be staying....."


Awal Desember 2007

25 kg. Angka itulah yang muncul setelah saya meletakkan koper di timbangan saat check-in untuk penerbangan KLM tujuan Kuala Lumpur-Jakarta. Itu artinya saya kelebihan 2 kg (jatah bagasi KLM kelas ekonomi 23 kg).


Masih diselimuti perasaan sedih, saya berusaha memindahkan sejumlah barang dari koper ke tas kabin. Ya, saya sedih, karena harus berpisah dengan dia. Padahal baru tiga hari belakangan ini kami semakin akrab. Sejak kursus dimulai saya sudah menyukainya. Saya rasa, ia juga begitu. Namun entah mengapa ia baru punya keberanian mengajak saya kencan justru menjelang kursus berakhir. Kami jadi tak punya kesempatan mengenal satu sama lain lebih dalam karena harus kembali ke negara masing-masing. Dan tampaknya ia bukan tipe pria yang rela bersusah payah menjalin hubungan yang dipisahkan lautan.


Ah, sudahlah. Yang pasti satu malam dingin di stasiun Amsterdam Arena itu akan selalu menjadi kenangan manis yang tak akan saya lupakan.


Akhir September 2009

Touchdown Schiphol! Udara dingin langsung menyambut kedatangan saya ke Negeri Kincir Angin. Persis seperti 2 tahun yang lalu. Bedanya, kini saya tiba dengan perasaan campur aduk, bukan cuma excited. Saya senang bisa berada di Belanda lagi untuk kuliah selama satu tahun, tapi saya ragu dan khawatir menjalaninya karena ibunda tercinta belum sepenuhnya merestui kepergian saya kali ini. Dalam hati saya bertekad, saya harus membuktikan kepada Mama bahwa apa yang akan saya tempuh disini bakal bermanfaat bagi kami sekeluarga. InsyaAllah.


Berbeda dengan 2 tahun lalu, saya tidak dijemput di Meeting Point. Saya harus naik kereta ke Den Haag. Untungnya, stasiun kereta Schiphol terintegrasi dengan bandara sehingga tidak saya tidak perlu repot-repot mencarinya. "One way ticket to Den Haag Holland Spoor, please..." kata saya kepada penjual tiket.


Akhir April 2010

Kami masih berpelukan erat. Sesekali kami juga berciuman. Di saat lain kami hanya saling pandang. Sungguh, saya ingin waktu membeku. Supaya saya tak perlu pergi dari saat ini.


Namun saya harus melepaskannya. Sudah waktunya ia pulang ke kampung halaman. Sementara saya masih punya sekitar 6 bulan lagi disini. Padahal semalam, pertama kalinya tiga kata magis itu terucap dari mulutnya. "I love you," katanya. Tidak, kami tidak pacaran. Banyak hal yang menghalangi sehingga kata komitmen tak bersahabat dengan kami. Tak apa, saya senang pernah menghabiskan hampir semusim bersamanya disini.


Sebentar lagi pesawat yang akan ditumpanginya berangkat. Bahkan waktu boarding pun telah lewat. Ia mengecup kening saya sebelum akhirnya beranjak meninggalkan saya. Saya hanya berharap ia selalu ingat pesan saya, "Please remember me with a smile..."


Akhir September 2010 (1)

Saya berada di Terminal 3, mengantar seorang teman wanita yang akan pulang ke Jakarta. Di tempat yang sama dimana saya pernah melepasnya. Peristiwa 5 bulan silam itu masih terekam jelas di benak saya


Tapi kini yang ada cuma perasaan hampa. Sejak beberapa jam lalu, sudah tak ada lagi 'saya dan dia'. Akhirnya kami bisa berdamai dengan komitmen. Ya, komitmen untuk mengakhiri semuanya.


Di detik ini, di tempat ini, rasanya ada sebagian dari diri saya yang hilang.(Disini, Dulu & Saat Ini)


Akhir September 2010 (2)

Saya senang. Hari ini Mama dan adik perempuan saya akan tiba di Belanda. Mereka datang untuk menghadiri wisuda saya bulan depan, sekaligus berlibur.


Saya menunggu mereka tepat di pintu keluar terminal kedatangan. Saya selalu suka suasana di sini. Orang-orang berpelukan hangat, saling melepas rindu. Yang tergambar cuma perasaan bahagia. Tak ada yang lain.


Ah. itu mereka! Orang-orang yang rindukan. Akhirnya setelah satu tahun berpisah, kami berkumpul lagi.


Akhir October 2010

Pesawat Malaysia Airlines yang seharusnya membawa saya kembali ke Jakarta, mengalami kerusakan tehnis. Akibatnya para penumpangnya dipindahkan ke beberapa maskapai lain. Saya kebagian Garuda Indonesia.


Cukup menyenangkan. Saya mendapat tempat duduk yang nyaman di sisi jendela. Ditambah lagi, tak ada penumpang lain di sebelah saya, jadi saya bisa bergerak dengan leluasa.


Hari ini saya kembali ke tanah air. Sedih meninggalkan Den Haag yang sudah satu tahun menjadi rumah saya, tentu saja. Tapi saya optimis, suatu hari nanti saya akan kembali ke Belanda.


Pesawat pun mengudara. "Til we meet again, Holland!"


Akhir Mei 2011

Horee... saya pulang kampung! Tampaknya Belanda memang tak bisa lama-lama melepaskan saya. Buktinya baru 7 bulan berpisah, ia sudah 'menuntut' untuk kembali bertemu dengan saya.


Kali ini saya datang untuk berpartisipasi dalam Holland Alumni Conference 2011. Saya satu pesawat dengan salah seorang peserta dari Indonesia, namun kami terpisah saat keluar dari pesawat. Kami sempat berjanji bertemu di Meeting Point untuk bersama-sama naik kereta ke Den Haag.


Setelah melalui imigrasi dan mengambil barang, saya melangkah menuju Meeting Point. Persis seperti 3,5 tahun yang lalu saat saya pertama kali tiba di Schiphol...


***


"Every time I was in Schiphol, I left a little piece of my heart. Thus, the bigger piece of it always yearn to reunite with the little pieces. However, each time I came back to Schiphol, another little piece of my heart wanted to remain there. That is why, I keep coming back to Schiphol... :)"


Jakarta, 19 Juni 2011

02.15 AM

Friday, June 17, 2011

Mungkin Saya Memang Berjodoh dengan Belanda...

"...Jadi, saya tak akan berkata "Selamat Tinggal Belanda" saat pesawat yang saya tumpangi take off dari Bandara Schiphol nanti. Saya cuma akan bilang "Til We Meet Again, Holland" :)..."


Kalimat diatas adalah penggalan paragraf terakhir dari tulisan yang juga saya muat di blog ini tanggal 23 Oktober 2010 silam (Saya Pasti Bakal Kangen Sama Belanda). Saat itu tiga hari menjelang kepulangan saya ke tanah air setelah menetap di Den Haag selama satu tahun.


And.. here I am now, in the same city, at this very moment. Sungguh, saya tidak menyangka kalau ucapan terakhir saya dalam note tersebut begitu cepat terealisasi. Hanya berselang tujuh bulan, saya sudah berjumpa kembali dengan Negeri Kincir Angin.


Selain cuacanya yang (memang selalu) tidak pernah bersahabat (karena kerap berubah-ubah), Den Haag tetap menyambut saya dengan hangat. Semuanya masih sama seperti saat saya tinggalkan. Bahkan saking familiar-nya saya sampai merasa tidak pernah meninggalkannya. Aktivitas saya disini sejak tiba hari Rabu, 25 Mei lalu sampai sekarang, seakan-akan hanya merupakan kelanjutan dari kegiatan sehari-hari. Saya merasa berada di rumah. Mungkin terdengar lebay, tapi itulah faktanya. Itulah yang saya rasakan.


Belanda memang punya arti khusus bagi saya. Alasannya, sejak tahun 2007 hingga sekarang, sudah tiga kali saya bolak balik ke Belanda. Dan perjalanan itu saya lakukan setiap dua tahun sekali. September 2007, saya berangkat ke Hilversum untuk mengikuti kursus Broadcast Journalism di RNTC selama 3 bulan. Dua tahun kemudian, saya mulai menetap di Den Haag untuk kuliah S2 selama satu tahun. Lalu tahun 2011 ini, saya bertolak ke Den Haag berpartisipasi dalam Holland Alumni Conference bersama 200 peserta dari 36 negara lainnya. Yang patut disyukuri, semua perjalanan tersebut gratis. Saya dibiayai untuk mengikuti program-program itu. Dan tentu saja, yang lebih menyenangkan lagi, mendapat kesempatan masuk ke negara Belanda, juga berarti berhak menjelajah ke 25 negara Schengen lainnya. Itu artinya, saya juga mendapat kesempatan menyalurkan hobitravelling saya ke negara-negara Eropa lain yang tentu lebih mudah dijangkau dari Belanda.


Ya, saya sadar, saya memang sangat patut bersyukur.


Tapi, sebenarnya apa rahasianya saya bisa begitu akrab dengan negara bekas penjajah ini?


Entahlah. Yang pasti untuk bisa mendapatkan kesempatan gratis, saya harus melalui proses seleksi. Tetap ada perjuangan disitu. Nothing comes for free, actually.


Namun, selebihnya, bisa jadi saya memang sekedar beruntung dengan sesuatu yang berkaitan dengan Belanda. Seperti mengutip perkataan seorang sahabat melalui BBM (yang sedikit 'sewot' saat tahu saya akan kembali ke Belanda), "You're one lucky bitch!"


Atau... sederhana saja.


Mungkin, hanya mungkin... Saya memang berjodoh dengan Belanda...


***


Den Haag, 31 Mei 2011

01.40 AM