Wednesday, November 10, 2010

Beri Saya Benci!

Ada satu perasaan yang sangat ingin saya miliki saat ini: benci. Ya, benci. Saya benar-benar ingin bisa membenci seseorang (saya tak perlu sebutkan namanya, yang pasti dia berjenis kelamin pria).


Saya sadar, saya tak seharusnya menginginkan perasaan tersebut. Karena benci adalah perasaan yang identik dengan segala sesuatu yang buruk, kotor, busuk, bahkan seringkali memicu tindak kekerasan atau kejahatan. Memendam perasaan benci tidak akan menyelesaikan masalah apa pun, malah bisa menambah persoalan.


Tapi, saat ini saya butuh perasaan benci...


Sebabnya, tak lain tak bukan, menyangkut urusan hati. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah jatuh cinta pada seseorang. Dia juga mengaku sangat tergila-gila kepada saya (sampai sekarang saya tak tahu ini cuma gombal belaka atau tulus dari dalam hatinya). Katanya, setiap hari ia selalu memikirkan saya, bahkan saya telah menempati 'Top of Mind'-nya. Jelas saya tersanjung. Wajar lah, saya kan cuma perempuan biasa yang mudah meleleh bila dicekoki kata-kata manis.


Namun, hubungan kami tak bisa berlanjut. Bagi saya, penyebabnya semata-mata karena ketidakcocokan. Saya dan dia sama-sama punya ego dan gengsi yang tinggi. Seringkali hal ini jadi pemicu pertengkaran karena tak ada yang bersedia mengalah. Tapi dia justru melihatnya dari sisi yang lain. Menurutnya, setelah mengenal saya lebih lanjut, ternyata saya jauh dari apa yang dia harapkan (maksudnya, tidak sesuai dengan standar yang telah ia tetapkan dalam mencari pasangan). Jadi, ia berkesimpulan saya tak patut untuk disukai lebih lanjut karena tak mampu memenuhi kriteria-kriteria miliknya. Dia juga ungkapkan alasan lain, "Dalam beberapa hal kamu sering membuat saya merasa tidak berharga".


Setelah kami berpisah, entah mengapa saya merasa ia tak sekedar ilfil (ilang feeling) terhadap saya, tapi juga mulai membenci saya. Puncaknya, ketika ia mengembalikan semua barang yang pernah saya berikan kepadanya. Saya merasa, saking bencinya, ia ingin mengenyahkan saya dari hidupnya.


Saya sedih. Saya sakit hati. Saya ingin balik membencinya. Dan saya punya banyak alasan untuk itu karena beberapa kali dia pernah melontarkan kata-kata yang menyakiti hati saya. Tapi saya tetap belum bisa total membenci dia. Saya masih berkutat dengan berjuta-juta 'mungkin' dan 'kalau saja'. Mungkin dia punya alasan untuk membenci saya. Seingat saya, saya tidak pernah memuntahkan kata-kata kasar atau melakukan hal-hal yang bisa membuat dia dendam. Kalaupun saya sempat sedikit kasar, saya sudah minta maaf. Tapi, bisa jadi, saya anggap biasa saja, justru menyinggung perasaannya. Apalagi saya tahu, dia punya prinsip 'forgiven but not forgotten'. Kalau sudah begini, saya pun berandai-andai: kalau saja dulu saya lebih banyak lagi mengalah, kalau saja dulu saya tidak mudah terpancing emosi, kalau saja dulu saya lebih peka. Mungkin ia tidak akan membenci saya seperti sekarang.


Tapi, untuk saat ini saya tidak ingin terusik dengan segala 'mungkin' dan 'kalau saja' itu.


Saya cuma ingin membenci dia...


Saya tahu, batas antara benci dan cinta itu tipis. Saya ingin benci dia, agar saya bisa mematikan rasa suka saya terhadapnya. Saya mau benci dia, supaya saya bisa berhenti membuat dia berlari-lari di pikiran saya. Saya butuh benci dia, supaya saya mampu melupakan semua kenangan yang saya punya bersamanya. Saya wajib benci dia, agar saya tak lagi beranggapan bahwa ia adalah teman ngobrol dan partner jalan yang menyenangkan. Saya harus benci dia, justru karena perasaan suka saya kepadanya mungkin sudah terlalu dalam.


Karena itu, biarkanlah saya memohon...


Tuhan, untuk sekali ini saja, tolong beri saya perasaan benci! Dan ijinkanlah saya untuk menikmatinya!


***


"Love is blind; hate is deaf." -Unknown


“You know that when I hate you, it is because I love you to a point of passion that unhinges my soul.” - Julie de Lespinasse


***


10 November 2010

03.00 AM


Saturday, October 23, 2010

Saya Pasti Bakal Kangen Sama Belanda

Lebih dari satu tahun sudah saya tinggal di kota Den Haag, yang terletak di selatan negeri Belanda. Ditemani cuaca yang seringkali mengesalkan, karena berangin kencang, kerap hujan, dan mudah berubah-ubah dalam hitungan menit.


Saya masih punya 3 hari penuh di Den Haag, sebelum pulang ke Indonesia hari Selasa, 26 Oktober 2010 nanti. Tapi, belum juga meninggalkan Belanda, saya sudah merasa kangen dengan Negeri Kincir Angin ini.


Saya pasti akan kangen dengan kamar yang saya sewa di sebuah apartment di Noordpolderkade 416, 2516JT. Kamar saya yang hangat dan selalu membuat saya betah berada di dalamnya. Kamar tempat saya menghabiskan malam-malam dengan sedikit (bahkan terkadang tanpa) tidur saat berjibaku dengan tugas-tugas kuliah. Kamar yang menjadi saksi bisu saat saya melepas kangen dengan keluarga dan teman-teman di jakarta, atau sekedar ngobrol dan curhat dengan teman-teman di Den Haag, melalui YM atau Skype. Lingkungan di sekitar apartment sewaan saya yang sepi dan tentram, pasti juga membuat saya kangen. Sepasang kakek nenek yang selalu tampak mesra dari jendela rumah mereka setiap kali saya melewatinya. Bebek-bebek penghuni kanal yang selalu ceria tak peduli musim panas maupun dingin.


Saya pasti bakal rindu dengan sejumlah tempat. Bioskop Pathe, dimana saya bisa mnyalurkan hobi nonton sepuasnya, hanya dengan membayar 18 euro per bulan. Tempat makan dan makanan yang "bersahabat" dengan kocek mahasiswa: Warung Mini, Ming Kee, Fat Kee, Pizza 1 euro, Burger King paket 2 euro, ayam panggang toko Turki sebelah AH Lorenzplein. Grand Cafe di seberang kampus, tempat nongkrong usai kuliah. Tempat-tempat kencan: Los Argentinos, Sumo, Crazy Piano, Dudok, Vapiano, Escape, dll. Tempat belajar: perpustakaan super nyaman di Amsterdam, yang pernah memberi inspirasi saat saya mengerjakan resit salah satu tugas kuliah. RNTC di Hilversum, dimana saya kerap bolak balik untuk melakukan riset sebagai bagian dari tugas kuliah. Apartment teman-teman, tempat kami belajar bersama atau sekedar berkumpul: Stamkartplein, Van Musschenbroekstraat, rumah kost "Ibu Desi", Stoop's Residence di Delft, apartment orang tua Octa, Van Zeggelenlaan, Gouverneurlaan.


Dan, jelas saya tak akan pernah bisa melupakan beragam pengalaman berharga yang telah saya lalui disini. Menyadari kembali susahnya mencari uang saat bekerja sebagai petugas kebersihan, pelayan dan peracik makanan di Pasar Malam Indonesia dan Tong-Tong Fair. Puasa hampir 18 jam karena bulan Ramadhan jatuh di musim panas. Jalan-jalan ala backpacker keliling Eropa. Kencan-kencan upaya mencari cinta sebagai pelengkap usaha meraih cita. Ikut lautan oranye merayakan Queen's Day dan nonton final Piala Dunia di Amsterdam. Dan masih banyak lagi yang tak mungkin dijabarkan satu per satu.


Tapi yang paling penting adalah, saya pasti bakal selalu ingat dengan persahabatan-persahabatan yang terjalin di sini. Terutama dengan orang-orang yang saya tag di note ini. Karena merekalah yang membuat saya betah di sini. Mereka adalah keluarga saya selama saya berada di Den Haag.


Saya tahu, setelah pulang ke Jakarta nanti, rasa kangen saya terhadap Belanda, mungkin malah tidak akan sebesar sekarang. Karena saya pasti akan sibuk dengan rutinitas sehari-hari yang menyita waktu dan perhatian. Atau saya mungkin akan asyik melepas rindu dengan hal-hal yang tak pernah atau jarang saya lakukan di Belanda (seperti memanjakan diri di salon, nongkrong dan ngopi-ngopi bersama teman-teman, makan jajanan kali lima). Bahkan, kalau merasakan cuaca Den Haag yang saat ini semakin dingin (pernah mencapai 2 derajat C padahal belum resmi masuk musim dingin), saya sebenarnya sudah ingin segera kabur ke tanah air. Makanya, sebelum saat itu tiba, sah-sah saja kan bila saya ingin menikmati hari-hari terakhir di sini dengan sedikit bermellow-mellow ria?


Tahun 2007, saya pernah tinggal di sini selama tiga bulan. Saya tak pernah menyangka dua tahun kemudian saya bisa kembali kembali ke Belanda dan bahkan menetap untuk waktu yang lebih lama. Jadi, saya tak akan berkata "Selamat Tinggal Belanda" saat pesawat yang saya tumpangi take off dari Bandara Schiphol nanti. Saya cuma akan bilang "Til We Meet Again, Holland" :)


***


Den Haag, 23 October 2010

01.40 AM


Monday, September 27, 2010

Broadway & Mimpi yang Anti-Kadaluarsa


New York, Oktober 2000


Sebuah cafe di kawasan Times Square menjadi pilihan saya dan dua orang sepupu untuk menghabiskan sisa malam. Sambil menyeruput secangkir capuccino, kami pun asyik mengobrol. Topiknya, masih seputar resepsi pernikahan sepupu kami yang berlangsung malam sebelumnya. Resepsi tersebut diadakan di salah satu club hiburan malam yang cukup terkenal di kota yang dijuluki "The Big Apple" ini. Maya, Sepupu kami yang wanita asli Indonesia menikah dengan seorang New Yorker, yang juga pemilik club tersebut. Uniknya, semua tamu yang datang diwajibkan memakai pakaian tradisional Indonesia.


Di tengah-tengah perbincangan seru, melalui kaca cafe, mata saya menangkap sebuah bus umum yang sedang melintas. Tak ada yang istimewa dengan bus itu, hanya saja tulisan besar yang ada disana menarik perhatian saya. Bus tersebut mengiklankan pertunjukan Broadway Musical "The Lion King". Saya sudah sering membaca pujian tentang pertunjukan yang mulai digelar di Broadway sejak tahun 1997 ini. Sontak saya pun berkata "Wah, gue pengen banget nonton Broadway, dan kabarnya "Lion King" bagus ya? Masih sempat gak ya? Duh, kok gak kepikiran dari kemarin-kemarin ya." Saya memang suka nonton teater, tapi cukup yang ringan dan menghibur saja, sejenis Teater Koma misalnya. "Gak akan sempat deh, dua hari lagi loe pulang dan setahu gue gak gampang dapat tiketnya, musti pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Gue sih udah pernah." Jawab Tania, sepupu saya, yang juga adik dari Maya dan sedang tinggal di New York.


Ah, dalam hati saya menyesal. Kenapa menonton Broadway bisa luput dari rencana perjalanan saya, padahal saya sudah berada di New York sejak sebulan yang lalu. Apalagi, belum tentu saya bisa kembali lagi kesini. Kalau mengandalkan modal pribadi, jelas saya tak akan sampai di New York. Saya masih berstatus mahasiswi yang belum punya penghasilan. Saya bisa mencicipi New York karena dibiayai penuh oleh Om dan Tante saya.


Hhm, saya lantas bertekad, suatu saat nanti saya harus menyaksikan pertunjukan "Lion King". Entah bagaimana caranya. Namun, karena sama sekali tidak punya bayangan bagaimana cara merealisasikan niat tersebut, saya pun terpaksa mengubur mimpi itu dalam-dalam.


***


Singapura, Mei 2009



Siang itu, pengunjung Esplanade Theatre membludak. Pasalnya, pertunjukan Broadway Musical "Cats" sedang digelar di sana, mulai tanggal 10 April hingga 3 Mei 2009. Saya dan dua orang teman, Achy dan Miranti, termasuk diantara para penonton. Kami sengaja datang ke Singapura untuk menyaksikan pertunjukan ini. Kebetulan ada tiket murah ditawarkan sebuah maskapai penerbangan yang membuka rute baru dari Jakarta ke kota Singa.


Adalah saya yang berinisiatif mengajak kedua teman saya untuk menonton pertunjukan ini. Saya masih terngiang-ngiang mimpi saya 9 tahun yang lalu. Makanya ketika melihat iklan di koran bahwa ada Broadway Musical yang akan digelar di Singapura, saya langsung tertarik untuk menontonnya. Apalagi setelah tahu harga tiketnya cukup terjangkau, saya pun tak ragu menyisihkan sebagian dari gaji bulanan saya untuk berakhir pekan di Singapura.


Saya cukup puas menyaksikan "Cats". Petunjukan musikal karya Andrew Llyod Webber ini menyuguhkan musik, koreografi dan kostum yang megah. Bedanya dengan "Lion King", "Cats" bermula pada tahun 1981 di West End, London, bukan di Broadway, New York. Setahun kemudian, barulah pertunjukan ini digelar di Broadway hingga tahun 2000.

Tapi konon (dari resensi-resensi yang pernah saya baca), pertunjukan "Lion King" jauh lebih ringan dan menghibur dibandingkan "Cats". Karenanya, saya tetap berambisi untuk menikmati pertunjukan karya Disney tersebut. Entah kapan mimpi itu bisa terlaksana.


***



London, 14 September 2010


Hari ini, mimpi saya 10 tahun yang lalu, akhirnya terwujud! Saya dan tiga orang teman, Melinda, Dewi dan Romy, baru saja usai menyaksikan Broadway Musical "Lion King" di Lyceum Theatre. Bukan di Broadway tapi di West End, London. Tak mengapa, karena dalam hal teater dan pertunjukan musikal, West End tak kalah pamornya dengan Broadway.


"Lion King" telah dipentaskan di West End sejak tahun 1999 dan hingga saat ini penontonya masih terus membludak. Saya sangat puas dengan pertunjukan ini. Musik, koreografi, kostum, tata panggung, akting para pemain, semuanya begitu memukau. Tak rugi mengeluarkan kocek sebesar 29 Pounds atau sekitar Rp. 410.000 (harga termurah) untuk menikmati pertunjukan berdurasi dua setengah jam ini.


Tapi di luar itu semua, saya punya kepuasan tersendiri. Saya sengaja menyisihkan sebagian dari uang saku bulanan (yang saya terima dari program beasiswa) untuk berlibur ke London (dan membeli tiket "Lion King" tentu saja). Saya pikir, mumpung London dekat dengan Belanda dan pengurusan visanya relatif lebih mudah. Kalau pakai uang sendiri, rasanya belum mungkin saya bisa menginjakkan kaki di London. Sejak Oktober 2009, saya memang mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda untuk melanjutkan studi S2 selama satu tahun di kota Den Haag. Siapa sangka, kesempatan berharga inilah yang akhirnya membawa saya merealisasikan mimpi sederhana yang saya punya sejak 10 tahun lalu.


***


Makanya, jangan pernah takut untuk bermimpi, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang besar. Karena mimpi itu bisa terwujud bila diusahakan atau bila ada kesempatan yang hinggap. Percaya deh, mimpi itu sungguh anti-kadaluarsa!


"If you can dream it, you can do it"-- Walt Disney.


***


Den Haag, 27 September 2010

2.25 AM

Tuesday, September 21, 2010

Disini, Dulu dan Saat Ini

***

Schiphol Airport, Amsterdam - Terminal 3


Disini, dulu, suatu siang di penghujung bulan.

Berbagai rasa campur aduk menjadi satu. Bahagia. Sedih. Dicintai dan Mencintai. Rindu. Cemas.

Semuanya indah. Terang. Berharga. Secercah harapan, menyeruak diantara.

"Ah, seandainya saja waktu bisa diulang. Tak ingin segera beranjak dari rasa ini..."

***

Schiphol Airport, Amsterdam - Terminal 3


Disini, saat ini, suatu pagi di hampir akhir bulan.

Yang ada cuma rasa hampa. Hilang. Sepi. Gelap. Tak Berarti.

Segenggam harapan itu pun, pupus sudah.

"Ah, seandainya waktu bisa dipercepat. Ingin segera berlari dari rasa ini..."

***


Bagi saya, bandara seakan punya kekuatan magis, karena bisa memberi rasa yang berbeda setiap kali saya berada disana. Seperti halnya sang waktu, yang punya makna berbeda di setiap fragmennya...


***




Saturday, September 11, 2010

Mencari yang ideal

Coba pikirkan, sepanjang hidup Anda, seberapa sering kata 'idealnya' terlintas di benak atau terlontar dari mulut Anda? Saya yakin, pasti jawabannya tak terhitung.


“Idealnya, saya menikah di usia 25 tahun...”

“Idealnya, saya punya pacar yang tampan dan setia...”

“Idealnya, saya punya penghasilan Rp. 20 juta per bulan...”

“Idealnya, usia 30 tahun saya sudah punya rumah sendiri..”

Dan berjuta-juta 'idealnya' lainnya...


Dalam bahasa inggris kata ideal juga berarti ideal dan menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary yang saya punya, ideal artinya “idea or standard that seems perfect” atau “person or thing considered perfect”. Kesimpulannya, ideal identik dengan perfect atau sempurna.


Tak ada yang salah dengan menginginkan kondisi atau hal-hal yang ideal. Bahkan sangat manusiawi, karena kita pasti mau yang terbaik dalam hidup ini. Menengok ke belakang, saya bisa dibilang beruntung karena cukup banyak kondisi (yang menurut saya) ideal yg telah saya raih selama 33 tahun saya hidup di bumi ini (halah, jadi ketahuan deh umurnya). Saat SMA, saya berpikir, “Saya ingin jadi diplomat, idealnya saya kuliah di jurusan Hubungan Internasional”. Tahun 1996, saya lolos UMPTN dan diterima di HI UNPAD. Tapi di tengah-tengah kuliah, saya berubah pikiran. “Idealnya setelah lulus nanti, saya tidak jadi diplomat tapi berkarier sebagai jurnalis televisi”. Mei 2002, enam bulan setelah jadi sarjana ilmu politik, saya bergabung dengan Trans TV sebagai Reporter. Contoh lainnya, saya berharap, “Idealnya, suatu saat saya akan meraih beasiswa S2 di luar negeri”. Pucuk dicinta ulam tiba, sejak tahun lalu saya belajar di Belanda dengan beasiswa penuh dari StuNed. Dan masih banyak ‘idealnya’ lain yang berhasil saya wujudkan dengan berusaha dan berdoa (semua orang yang beragama pasti sadar berusaha tak akan afdol tanpa diiringi doa).


Tapi itu semua menyangkut urusan cita (pendidikan dan pekerjaan). Dalam hal cinta, saya tidak seberuntung kebanyakan teman-teman saya (nah, mulai deh tulisan ini berubah jadi curhat colongan). Saya belum menikah, padahal saya pikir, idealnya sebelum usia 30 tahun saya sudah menikah. Saya bahkan belum pernah punya pasangan yang memiliki semua kriteria 'idealnya' versi saya. Ya, idealnya saya punya pendamping yang seiman, mapan (dalam artian punya pekerjaan yg memadai, penghasilan yang lebih baik dari saya dan punya cukup modal untuk menikah), good-looking dengan tubuh proporsional (cukup di mata saya, gak perlu ganteng kayak artis), dan di luar atribut-atribut itu, yang paling penting adalah nyambung dengan saya. Nyambung disini artinya punya wawasan yang luas dan bisa diajak berdiskusi tentang banyak hal. Dia harus mengerti prinsip-prinsip yang saya anggap penting dalam hidup saya dan dapat jadi sahabat yang bisa diajak serius dan juga bersenang-senang.


Terlalu pemilihkan saya? Saya akui, bisa jadi begitu. Bahkan saya mudah ilfil (ilang feeling) bila cowok yang sedang dekat dengan saya tidak sesuai kriteria ‘idealnya’ saya, termasuk dalam hal-hal kecil. Saya pernah ilfil pada seorang cowok yang memesan perkedel di McDonalds. Saya pikir seharusnya dia tahu, menu perkedel adanya di KFC, bukan McDonalds. Konyol memang, karena bisa jadi dia bukan seorang fast food junkie seperti saya (pada masa itu), karenanya sah-sah saja bila ia tidak tahu. Di tingkat yang lebih serius, saya juga pernah ilfil pada seorang cowok yang berkata,”Kok mau-maunya kamu kerja di akhir pekan, jangan mau kalo tidak dapat upah tambahan”. Sebagai jurnalis, saya sudah terbiasa kerja di akhir pekan, dan jurnalis tidak dapat upah tambahan untuk hal ini (bila dapat, saya tentu sudah kaya raya). Menurut saya, cowok ini tidak sepantasnya berkata begitu kepada saya, kan dia belum tahu seberapa besar saya mencintai pekerjaan saya, bahkan belum pernah bertanya apakah saya keberatan bekerja di akhir pekan. Contoh lainnya, seorang cowok yang dijodohkan kepada saya oleh seorang teman juga pernah berkomentar, “Sebaiknya kamu beralih profesi,gak akan berkembang kalo jadi jurnalis terus". Lagi-lagi saya berpikir, betapa sempitnya pemikiran orang ini. Dia kan belum tahu apa cita-cita saya dan kami belum pernah membahas seberapa jauh saya ingin berkarya sebagai seorang jurnalis. Orang-orang seperti dua contoh terakhir benar-benar bisa membuat saya ilfil , meskipun mereka punya atribut-atribut lain yg saya sebut diatas (seperti seiman, mapan dll). Jadi, ya benar, dalam hal cinta, saya memang si pemilih.


Tapi ternyata ada yang jauh lebih pemilih daripada saya. Saya punya seorang teman cowok. Dia sudah punya pacar dan mereka sudah menjalin hubungan selama lebih dari 4 tahun. Namun, teman saya mengaku, dia belum yakin bahwa sang pacar akan menjadi istri yang ideal baginya. Ia mengaku masih dalam tahap menilai. “Pacar saya memang calon yang potensial untuk masa depan saya, tapi saya belum yakin. Saya masih membanding-bandingkan dengan perempuan lain untuk mencari pendamping yang sepadan dan terbaik bagi saya.” cetusnya. Ia menambahkan, “Bahkan saya pun sedang menilai kamu saat ini”. (Oke, saya akui, saya memang lebih dari sekedar teman dengan dia). Pembicaraan ini berlangsung saat kami baru saling lebih mengenal selama kurang lebih 2 bulan. Saat itu saya pikir, wajar lah kalau ia masih menilai saya. Tapi yang membuat saya sedikit terhenyak justru, 5 bulan berselang dari pembicaaraan tersebut, ia mengaku masih belum bergeser dari tahap menilai saya. Ego saya si pemilih pun berontak, karena tak terima terus-terusan dinilai. Saya kira hubungan kami sudah sampai ke tahap yang nyaman dan sudah melewati masa penilaian (walaupun mustinya saya tidak heran, karena toh dia juga masih terus menilai pacarnya yang sudah lebih dari 4 tahun bersamanya).


Dari kedekatan saya dengan dia, saya si pemilih pun sadar bahwa ternyata tak enak terus-terusan dinilai (seperti yang sering saya lakukan pada orang lain). Saya lantas berpikir ulang tentang kriteria ‘idealnya’ versi saya dalam mencari pendamping hidup. Mungkin saya terlalu pemilih dan ada baiknya saya berkompromi dengan kriteria-kriteria tersebut. Karena kalau dalam hal-hal lain (misal, pekerjaan) saya bisa kompromi bila tidak berhasil mencapai yang ideal (dengan dalih ‘bukan jalannya’, ‘Tuhan punya rencana yang lebih baik’, ‘belum rejeki’, dsbnya) kenapa dalam urusan mencari pasangan toleransi saya begitu ketat bahkan hampir tidak ada? Saya pun tanpa ragu langsung menjawab, wajar dong kan yang ini (lagi-lagi idealnya) buat seumur hidup, jadi saya mau dapat yang terbaik. Tapi kalau begitu, sampai kapan saya harus bertahan mencari sosok ideal yang belum tentu akan saya temukan tersebut? Rasanya lelah juga kalau harus terus-terusan menilai. Seorang teman malah pernah menyindir saya “Yang ideal menurutmu itu kan subyektif sekali, kalau kamu ingin cari pasangan yang ideal versimu tanpa kompromi sedikit pun, ya pacarin aja diri sendiri."


Jadi, haruskah saya tetap bertahan dengan kriteria ‘idealnya’ versi saya atau sebaiknya saya mulai berkompromi dengan mengubah kriteria-kriteria tersebut? Ah, saya tidak tahu. Sungguh, untuk urusan yang satu ini, saya bingung. Satu hal yang pasti, saya cuma ingin yang terbaik.


***


"Isn't everything autobiographical? I mean, we all see the world through our own little keyhole" - Jesse in the movie "Before Sunset".


Den Haag, 11 September 2010

03.05 AM


Thursday, September 2, 2010

Tentang Ingatan

Pernah nonton film “Eternal Sunshine of the Spotless Mind" ? Bila belum, biar saya ceritakan sedikit tentang isi film tersebut. Film buatan tahun 2004 ini berkisah tentang Joel Barish (diperankan oleh jim Carey) yang suatu hari menemukan kekasihnya, Clementine Kruczynski(diperankan oleh Kate Winslet), tidak lagi mengenali dirinya. Usut punya usut, ternyata Clementine telah menghapus semua ingatannya tentang Joel melalui jasa perusahaan penghilangan ingatan bernama Lacuna, Inc. Terpukul dengan tindakan sang kekasih, Joel pun berusaha melakukan hal yang sama. Namun, saat proses pembuangan ingatan berlangsung, Joel justru menyadari ia tak ingin kehilangan semua ingatan tentang Clementine. Karena selain ingatan yang buruk, ia bahkan punya lebih banyak ingatan yang indah tentang Clementine.


Saya sudah sering membaca resensi yang memuji film karya sutradara Michel Gondry (yang juga menyutradarai film "Being John Malkovich") ini. Hanya saja belum pernah sempat menontonnya. Saya baru sengaja menyaksikannya saat mengalami hal yang hampir serupa dengan Joel dan Clementine. Ya, saya ingin menghapus ingatan tentang seseorang dari pikiran saya. Saya pernah dekat dengan orang ini dalam waktu yang relatif singkat, tapi sangat berkesan karena banyak hal yang telah dilalui bersama dan begitu dalam perasaan saya kepadanya. Wajar saja, kalau ia kerap menyesaki pikiran saya. Suatu hari, kami sepakat untuk memutuskan kedekatan yang sudah terjalin. Tak lama setelah itulah saya menonton film ini. Saya pun berpikir, alangkah leganya bila jasa pemusnahan ingatan tersebut benar-benar ada di kehidupan nyata. Jujur saja, saat itu saya sangat tersiksa dengan ingatan-ingatan saya tentang teman dekat saya itu, karena hampir setiap jam (kayaknya agak berlebihan kalau bilang setiap menit atau detik, hehe), ia berlari-lari di benak saya. Rasanya ingin menghapus semua ingatan tentangnya secara instan supaya saya bisa berkonsentrasi ke hal-hal lain.


Kenyataannya, menghilangkan ingatan yang berkesan memang tidak mudah. Ingatan lebih dari sekedar kumpulan informasi yang tersimpan di dalam otak, tapi juga merupakan tumpukan pengalaman yg melibatkan orang lain, benda, tempat atau situasi tertentu. Ingatan juga terbentuk dari apa yang kita terima melalui 5 panca indera kita. Lewat 5 panca indera ini jugalah ingatan yang sudah memudar bisa menyeruak kembali. Contohnya, bila melihat atau mencium benda tertentu, kita bisa teringat orang, tempat, atau keadaan tertentu.


Maya Angelou, penyair terkenal asal AS, pernah berkata "I've learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel." Tak heran, menghilangkan ingatan menjadi sulit, karena ingatan erat kaitannya dengan perasaan. Coba pikirkan beberapa ingatan yg ada di otak anda. Masing-masing bisa menimbulkan perasaan yang berbeda saat kita mengingatnya. Ada yang membuat tersenyum, terharu, marah, bahkan ada yang membuat kita menangis. Artinya, ingatan satu paket dengan perasaan. Berusaha melenyapkan ingatan (tentang seseorang) tak akan sukses tanpa diiringi upaya mematikan perasaan yang menyertainya. Dan menghilangkan perasaan jauh lebih sulit daripada sekedar meraibkan ingatan, karena yang satu ini sudah menyangkut urusan hati.


Dulu, jaman SMA dan kuliah, saya sering bertindak impulsif bila ingin melupakan seseorang (dalam konteks asmara tentunya). Saya kerap membuang semua barang yang berhubungan dengan mantan pacar saya dan berusaha memutuskan semua kontak dengannya. Tapi seiring waktu berjalan, saya tak lagi tergesa-gesa melakukan hal-hal tersebut. Karena saya kini sadar, yang utama bukanlah membinasakan sang mantan dari pikiran saya, tapi justru menetralkan perasaan yang pernah saya limpahkan kepadanya. Kalau perasaan saya sudah netral, akan lebih mudah melupakan sang mantan. Tapi meski telah memudar, perasaan tak akan pernah hilang 100 %. Misalnya, saat ini saya mungkin sudah lupa apa saja yg pernah saya lalui bersama sang mantan, namun saya masih ingat perasaan seperti apa yang pernah ia berikan kepada saya saat kami bersama, dan perasaan seperti apa yang pernah saya limpahkan kepadanya.


Jadi, kalaupun jasa yang ditawarkan Lacuna, Inc. ada di dunia nyata, saya kini yakin tak akan memakainya. Hanya akan buang-buang waktu dan tenaga (dalam fim tersebut digambarkan proses penghilangan ingatan itu berlangsung semalam suntuk). Apalagi kalau ujungnya juga seperti akhir film "Eternal Sunshine of the Spotless Mind". Joel dan Clementine yang sama-sama sudah tidak saling mengenal, tak sengaja bertemu lagi (maaf bila ini menjadi spoiler bagi yang belum nonton). Dasar jodoh, mereka jatuh cinta dan semua bermula kembali. Kelanjutannya, bisa ditebak. Keduanya kembali merajut ingatan demi ingatan tentang satu sama lain.


***


Den Haag, 2 September 2010

03.09 AM

Wednesday, December 6, 2006

Partner In Crime

Belum setahun bergabung dengan Trans TV, sekitar bulan Februari 2003 saya ditempatkan di program baru bertajuk “Kriminal”. Sesuai dengan namanya, isi liputannya seputar dunia hitam para penjahat. Supaya bisa bersaing dengan program sejenis yang sudah menjamur di berbagai TV lain, tentu selain beritanya harus aktual, gambarnya juga wajib eye catching. Karena itu, sasaran utamanya adalah berita kriminal yang diliput langsung di lokasi kejadian, bukan sekedar di kantor polisi.

Tapi, jangan kira mudah mendapat berita seperti itu. Selain tim yang cuma lima orang (dua reporter & tiga cameraperson), saat itu redaksi juga belum punya jaringan yang luas dengan para polisi yang bisa memberi akses untuk meliput. Jadilah kami yang diminta ber-PDKT dengan mereka. Saya dan cameraperson harus rela nongkrong dari satu polsek atau polres ke polsek atau polres lain di seluruh Jakarta, meskipun tidak sedang mencari berita. Tujuannya satu, supaya diajak ikut penggerebekan oleh para buser sehingga kita bisa dapat gambar bagus. Tapi, ternyata gak gampang untuk membuat mereka percaya sama kita. Apalagi saat itu kami tidak dibekali dengan beragam souvenir dari kantor yang bisa dijadikan alat ‘sogokan’. Akhirnya saya cuma mengandalkan kemampuan
speak-speak saya. Tapi gak sia-sia kok. Jadi ingat betapa senangnya ketika di tengah malam saya mendapat telepon untuk diajak ikut penggerebekan. Walaupun saya harus merelakan terbangun di malam hari saat libur (kan mereka gak tau jadwal libur saya) dan menghabiskan pulsa telpon untuk memberi tahu tim jamal untuk follow up.

Dari “Kriminal” saya pindah ke “Interogasi”. Sama-sama masih seputar dunia hitam. Tapi kali ini obyeknya adalah mantan preman alias preman yang telah insyaf. Gambarnya akan bagus kalau sang mantan preman punya banyak tato, bekas luka, atau senjata. Makanya, saat riset saya gak sekedar mencari tahu kejahatan yang pernah dilakukan sang narasumber dan apa yang membuat dia insyaf, tapi juga lukanya ada dimana saja, dan sisa-sisa ‘kebuasannya’ yang lain. Gak jarang, telepon dari pemirsa yang protes datang ke redaksi. Kata mereka, program ini mengajarkan orang untuk berbuat jahat. Padahal para mantan preman itu baik-baik loh. Buktinya seorang preman asal Banten rela menyediakan cottage dan makan gratis saat tim introgasi bikin perpisahan :)

Lepas dari “Interogasi”, saya gabung dengan tim “Lacak”. Masih di dunia yang berdarah-darah. Bahkan tantangannya lebih besar, karena liputannya adalah tentang kasus pembunuhan yang belum terungkap. Cukup mengerikan karena pelakunya masih berkeliaran di luar sana. Cukup sulit karena pasti tak mudah untuk membujuk keluarga korban membuka luka lama plus merayu polisi mengingat pekerjaaan rumah mereka yang belum tuntas. Liputan pertama saya tentang pembunuhan sepasang suami istri di Bangil, Jawa Timur. Tenyata meski telah berselang enam bulan dari waktu pembunuhan, TKP nya belum berubah. Di kamar mandi, bercak darah di lantai dan dinding masih terlihat jelas. Jangkung, partner in crime saya saat itu, bahkan minta ditemani saat ambil gambar di kamar mandi. Padahal biasanya Jangkung yang bertubuh tinggi besar, gak pernah takut apa pun. Sang istri yang bernama Nanung ternyata juga punya buku harian. Di setiap lembar buku tebal itu ia selalu menuliskan Nanung love Didik (nama sang suami) Forever. Dan mereka benar-benar sehidup semati. Hii, saya jadi merinding mengingat itu :(

Yang pasti, dari program “Lacak”, saya banyak belajar tentang seluk beluk kejahatan. Apalagi saya juga harus mereka ulang kronologis pembunuhan. Jadilah saya mencoba berpikiran bak seorang pembunuh. Iih ngeri. Tapi dengan begitu saya jadi sedikit belajar bagaimana cara menghindari kejahatan. Misalnya, pernah beberapa liputan yang dikerjakan tim “Lacak”, semua korbannya adalah perempuan hamil yang dibunuh pacarnya sendiri. Kami pun sempat berkesimpulan, kalau dihamili sama pacar jangan minta dikawinin, nanti malah dibunuh!

Lepas dari “Lacak” Saya punya tanggung jawab baru sebagai Asisten Produser di Program “Jelang Siang”. Tadinya saya pikir, bisa bebas dari dunia kriminal. Ternyata belum. “Jelang Siang” juga punya liputan Dramatic Story, yaitu kriminal yang korbannya anak-anak dan wanita. Seringnya kasus perkosaan dan pencabulan. Jadi, saya belum berpisah dengan sahabat-sahabat polisi dan penjahat.

Hampir tiga tahun saya berkecimpung di dunia yang berdarah-darah itu. Setelah itu, baru dipindahkan ke korda yang, kalaupun masih bersentuhan dengan dunia hitam, hanya sekedar mendengar laporan dari teman-teman di daerah. Ada yang bilang liputan kriminal itu mudah karena 5W + 1H-nya gampang didapat. Ada yang bilang liputan kriminal gak keren, kurang bergengsi, liputan ece-ece. Ada juga yang berpendapat, liputan kriminal gak ada manfaatnya.

Tapi tidak bagi saya. Dari liputan kriminal saya jadi kenal banyak polisi se-jabodetabek dan se-antero nusantara (Manfaatnya: dimana pun berada, saya bisa merasa aman, karena kalau ada apa-apa saya bisa langsung telepon mereka untuk minta bantuan). Saya juga jadi tahu cara para penjahat beroperasi (Gunanya: paling tidak saya bisa memikirkan cara untuk mengantisipasinya kan?). Saya juga kenal sejumlah preman di berbagai daerah (Untungnya: kalau datang ke suatu wilayah, saya gak perlu takut, karena kalau ada apa-apa, tinggal minta bantuan sang penguasa wilayah).

Tapii… yang paling penting adalah, dari liputan kriminal saya juga bisa dapat pacar! Bukan cinlok karena sang pacar bukan cameraman yang pernah liputan bareng saya. Tapi narasumber saya! Jadi pacar saya penjahat, preman, polisi atau keluarga korban nih? Tebak aja sendiri :)

Note: sebenarnya tulisan ini ingin ikutan di buku Warna Warni 3, tapi sayangnya terlambat karena udah masuk percetakan. So, daripada terbuang sia-sia, saya post di blog ini aja...